Kampung Anggur Sarana Edukasi Sekaligus Berdayakan Warga

  • Bagikan
Anggur tampak manis segar (Foto: Wiradesa)

BANTUL – Memasuki Kampung Anggur di Plumbungan Gedongan, Sumbermulyo, Bambanglipuro Bantul, pengunjung akan disambut suburnya tanaman anggur yang bergelantungan di setiap halaman rumah milik warga.

Ditemui pekan lalu, Kustiyah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Arimbi, menuturkan perihal budidaya anggur yang ada di wilayahnya. Diceritakan, sebelum muncul gagasan menanam anggur, KWT membuat sampel tanaman toga dengan polybag untuk dibagikan ke seluruh warga setempat. Tujuannya, agar warga membudidayakan tanaman itu. Namun hal tersebut tak sesuai harapan, banyak warga yang tidak mengembangkan tanaman toga.

Pernah pula, mereka berpikiran ingin menanam tanaman yang masih langka, sekali tanam bisa menghasilkan seterusnya. Seperti tin, zaitun, atau kurma. Namun, setelah belajar kepada Rio Aditya, orang yang pertama kali menanam pohon anggur di kawasan tersebut, akhirnya KWT Arimbi tergerak melakukan budidaya anggur.

Perempuan berusia 55 tahun ini menceritakan, sebutan Kampung Anggur dimulai saat hari ulang tahun Sumbermulyo pada 2017. Warga Plumbungan membuat gunungan berisi anggur. “Karena saat itu belum punya anggur seperti saat ini, jadinya masih beli,” ujarnya. Sebagai promosi awal, mereka menyanyikan lagu “Kampungku Kampung Anggur” sembari menari di sepanjang jalan. Sehingga, hal tersebut menarik perhatian kalangan media.

Kustiyah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Arimbi (Foto: Wiradesa)

Pada akhir 2018, dibuatlah regulasi yang mewajibkan setiap warga menanam pohon anggur. Untuk warga yang belum menanam, bisa memperoleh bibitnya dari KWT dengan harga Rp120.000/bibit.

Tak butuh waktu lama, dalam delapan bulan hingga satu tahun, pohon anggur sudah bisa berbuah. Akhir 2019, dengan dibantu KWT Arimbi, semua warga Plumbungan sudah bisa menanam pohon anggur, meskipun ada yang hidup dan ada yang tidak. Sampai saat ini, kurang lebih 150 kepala keluarga (KK) yang sudah membudidayakan tanaman anggur. Setiap warga setidaknya menanam 9-10 pohon.

Baca Juga:  Panen Semangka di Tanah Pelungguh Carik Condongcatur

Ninel merupakan varietas yang pertama kali dibudidayakan warga Plumbungan. Seiring berjalannya waktu, varietas pohon anggur yang berhasil beradaptasi makin beragam. Ada dixon, akademik, jupiter, julian, everest, baykonur, trans, everest, oscar, dan lain-lain.

Untuk jenis anggur yang menjadi andalan kampung anggur ini ialah ninel dari ukraina. Selain buah dan tandonnya banyak, bibit yang dihasilkan dari pucuknya juga mudah didapat.

Jika pertumbuhan bibit yang ditanam bagus, empat bulan sudah bisa dipotong, kemudian 6-8 bulan sudah bisa berbuah. “Untuk bisa berbuah harus dipotong dulu. Perlunya untuk memperbanyak cabang dan untuk membesarkan cabang. Kemarin itu kan cuma ngelewer begitu saja. Itu bisa dipotong. Ini cuma ngelewer begini saja, nanti akan tumbuh,” jelasnya sembari memperlihatkan contoh pohon anggur yang sudah merambat lebat di halaman rumahnya.

Sebagai sarana edukasi, konsep media tanam yang dibuat di setiap rumah warga dibuat sama. Tempat merambat tanaman menggunakan konstruksi rangka baja ringan dan galvalum, yang bisa tahan lama dan rapi. Fungsi galvalum yaitu sebagai atap untuk peneduh anggur agar tidak terkena air hujan. Meski begitu, sinar UV masih bisa masuk. “Pohon anggur itu kan butuh sinar matahari,” lanjutnya.

Perawatan Tanaman Anggur

Anggur merupakan tanaman yang berakar tunjang, sehingga akar serabutnya tidak jauh dari pohon. Proses perawatan yang dibutuhkan dengan menyirami air secara rutin. “Sebenarnya, budidaya dan perawatan itu sama. Jadi kita hanya mempertahankan media tanamnya itu. Paling tidak, media tanamnya sesuai standar minimal 2:1:1,” tutur Ketua KWT Arimbi yang juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar.

Unsur penting media tanam dengan perbandingan 2:1:1 ialah, tanah, sekam, kotoran hewan yang sudah terfermentasi, serta pupuk NPK Mutiara yang kandungannya sudah lengkap. Dalam pemberian NPK, satu pohon kecil cukup ditaburi sepucuk sendok teh, sesuai dengan dosis. Diberikan seminggu-dua minggu sekali. Sedangkan untuk menghindari jamur dan hama, buah yang sudah nampak, dibungkus menggunakan kantong buah.

Baca Juga:  Warga Desa Baturetno Manfaatkan Kalen untuk Pelihara Ikan Nila

Keuntungan Menanam Pohon Anggur

Berkaitan dengan untung rugi, Kustiyah mengatakan, belum sempat mengkalkulasikannya. Namun, setiap pohon tak membutuhkan banyak pupuk, sedangkan setiap 1 kg buah laku dijual dengan harga Rp100.000. Untuk bibitnya untuk yang grafting/sambung bisa dijual dengan harga Rp125.000, dan yang stek bisa mencapai Rp200.000. “Untuk merawat tanaman sendiri lebih dari cukup. Iya, balik modal semua,” ucapnya.

Selain bisa ditanam di kawasan mana pun, pohon anggur merupakan jenis tanaman yang tidak mengenal musim. Tanaman anggur bisa panen kapan saja, tergantung dengan masa tanamnya, dan tidak membutuhkan lahan luas. “Lokasi tempat menanam tanahnya sempit, 50×50 cm, cukup buat menanam. Sepanjang tahun bisa panen dan menghasilkan uang,” terangnya lagi.

Sebelum pandemi, dari penjualan bibit dan buah anggur, Kustiyah bisa memperoleh pemasukan sampai Rp10 juta setiap bulannya. Namun, kondisi pandemi yang belum berakhir, pendapatan yang diperoleh setiap bulan kini tak lagi bisa dipastikan seperti dulu. (Septia Annur Rizkia)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *