Hibah Baznas Bisa Menguap Jika Tidak Ada Pendampingan Kelompok Peternak Penerima Bantuan

Supardal, Ketua Kelompok Ternak Domba “Berkah Harjo” Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo. (Foto: Wiradesa)

Upaya memberi bantuan atau hibah dari Baznas kepada para peternak di perdesaan layak diacungi jempol. Tetapi jika hanya terbatas untuk pembuatan kandang dan pengadaan domba, hibah Baznas yang nilainya ratusan juta rupiah, bisa menguap. Peternak domba di perdesaan, penerima hibah, perlu pendampingan orang yang ahli ternak domba.

Berdasarkan penelusuran Wiradesa.co selama dua hari (Sabtu dan Minggu 29 Maret 2026) di Kalurahan Banjarharjo Kalibawang, penerima hibah Kelompok Balai Ternak Domba “Berkah Harjo” dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) pada Februari 2024, tidak disertai pendamping ahli ternak domba.

Para peternak, yang umumnya masih tradisional atau konvensional, setiap hari masih harus ngarit untuk memenuhi 227 ekor domba hibah dari Baznas. Kemudian tidak mengetahui indukan itu berkualitas atau tidak, juga tidak memiliki ilmu yang cukup untuk pembibitan dan penggemukan ternak, serta kesulitan untuk menjual produksi ternaknya.

Kelompok Balai Ternak Domba “Berkah Harjo” pada Februari 2024 mendapat hibah dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) berupa 227 ekor domba, terdiri dari 225 domba lokal (125 jantan dan 100 betina) dan 2 domba ras Dorper asal Australia.

Diharapkan 2 domba ras Dorper tersebut menghasilkan anak domba bermutu unggul, hasil persilangan domba Dorper dan domba lokal. “Tapi harapan itu ternyata tidak menjadi kenyataan. Satu domba Dorper mati dan satu domba Dorper lainnya mandul,” ujar Supardal, Ketua Kelompok Ternak Domba “Berkah Harjo” Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo, Sabtu 28 Maret 2026.

Padahal satu domba ras Dorper itu dulu, menurut informasi Supardal, harganya Rp 45 juta per ekor. Sehingga dua ekor menghabiskan dana Rp 90 juta. Pengadaannya bukan dari peternak, tetapi langsung dari Baznas Jakarta. Peternak di Banjarharjo hanya terima saja.

Baca Juga:  Empat Syarat Budidaya Itik Petelur

Peternak, penerima hibah, ditugasi untuk pembuatan kandang dan pengadaan domba lokal, yang rencana anggaran belanjanya sudah ditentukan dari Baznas Pusat. Waktu pembuatan kandang dan pembelian domba lokal juga ditentukan, satu bulan harus selesai semua. Harga domba waktu itu satu ekor tidak boleh melebihi Rp 1,5 juta.

Kotoran hewan (kohe) ternak domba. (Foto: Wiradesa)

Setelah dua tahun berjalan, ternyata ada beberapa kendala yang dihadapi para peternak yang menjadi anggota Kelompok Ternak Domba “Berkah Harjo”. Persoalan itu antara lain, penyediaan pakan, kualitas indukan, dan imbasnya ke produksi ternak.

Untuk penyediaan pakan, para peternak harus ngarit atau mencari rumput setiap hari. Setiap peternak memelihara sekitar 10 domba. Sehingga tidak semua peternak kuat untuk menyediakan pakan ternak secara konvensional tersebut.

Akibatnya, pertumbuhan domba sangat lamban dan hasil dagingnya tidak sesuai harapan. Pada akad awalnya, Baznas akan membeli ternak hasil pemeliharaan para peternak untuk hewan kurban. Namun bobot yang ditetapkan Baznas tidak tercukupi semua.

“Baznas yang semula mau membeli 100 ekor untuk kurban, ternyata hanya mengambil 80 ekor. Alasannya berat kambingnya di bawah 28 kg per ekor. Baznas pusat hanya mau membeli jika bobotnya di atas 28 kg,” papar Supardal.

Sedangkan kualitas indukan, juga tidak sesuai harapan. Domba ras Dorper yang diharapkan memberi keturunan berkualitas unggul, ternyata satu mati dan mati mandul. Peternak baru tahu mandul, saat diberitahu petugas dari balai yang menangani persilangan ternak.

Karena diketahui mandul, maka kelompok ternak memutuskan untuk menjualnya. Harga domba Dorper yang dulu katanya Rp 45 juta, saat diketahui mandul hanya laku Rp 6 juta. “Peternak itu hanya menerima saja, dulu pengadaan Dorper dari Baznas pusat,” jelas Supardal yang Dukuh Kliwonan, Banjarharjo.

Baca Juga:  KPK Mendukung Keberhasilan Peternak Kambing
Seekor domba tidak gemuk atau tampak kurus. (Foto: Wiradesa)

Pada akhir Maret 2026, anggota Kelompok Ternak Domba “Berkah Harjo” tinggal 15 orang dengan domba 150 ekor. Saat Wiradesa.co mendatangi kandangnya di Padukuhan Ngrajun, Kalurahan Banjarharjo, Sabtu 28 Maret 2026, sejak pagi sampai siang hanya 3 peternak yang membawa rumput ke kandang.

Terlihat domba-dombanya kebanyakan kurus, tetapi ada beberapa domba yang melahirkan. Menurut Supardal, domba yang melahirkan itu hasil penukaran domba yang dipelihara dengan domba dari peternak di Jatimulyo Magelang. “Dua domba kami ditukar dengan satu domba dari Jatimulyo,” ungkap Supardal.

Saat membangun kandang, pada 10 Februari 2024, konsepnya bagus. Bentuk kandangnya terdiri dari dua baris bangunan, sebelah kiri untuk kandang pembibitan dan sebelah kanan untuk penggemukan.

Namun dalam perjalanan waktu dan sepertinya peternak tidak didampingi oleh ahli ternak domba, akhirnya upaya pembibitan dan penggemukan, ambyar, tidak sesuai harapan. Indukannya harganya mahal banget, tapi hasilnya makpret, satu mati satu mandul. Untuk penggemukan, karena pakannya harus ngarit, hasilnya makprit, kurus, kecil banget.

Hasil yang dirasakan peternak, kata Supardal, adalah kotoran hewan (kohe) ternak domba. Panen kohe setahun sekali dan pasarnya jelas, pengelola kebun kelengkeng yang ada di sebelah kandang ternak. Berapapun kohenya akan dibeli oleh pengelola kebun kelengkeng. Harganya Rp 15.000 per zak.

Chopper pencacah rumput gajah atau bahan lain untuk pakan ternak domba. (Foto: Wiradesa)

Sebenarnya para peternak masih ada semangat untuk memelihara domba. Namun mereka belum mampu membeli mesin Chopper yang digunakan untuk mencacah rumput atau bahan apapun yang bisa untuk pakan ternak. Juga pengadaan terpal, drum, untuk menampung silase atau bahan pakan yang sudah difregmentasi.

Harga Chopper mesin kecil 150 W-300 W sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan Chopper untuk produksi tinggi 6,5 PK, yang biasa untuk peternakan, harganya antara Rp 3,5 juta sampai Rp 11 juta. Sudah saatnya para peternak di perdesaan untuk mandiri, tidak bergantung pada bantuan. Jika ada bantuan, alhamdulillah, jika tidak tetap jalan terus. (Ono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *