Budidaya Lebah Madu Cara Alami, Satu Kotak Setahun Panen Empat Kali

  • Bagikan
Ilustrasi lebah madu (Foto: Net)

GUNUNGKIDUL – Budidaya lebah madu secara alami ditekuni Sugeng (51), sejak akhir 2019. Memanfaatkan lahan perkebunan sekitar rumahnya yang berada di Padukuhan Beji RT 17/04, Kelurahan Beji, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Mengawali obrolan perihal beternak lebah madu, Sugeng mengenang masa kecil. Ketika menemukan sarang lebah, dulu dia lebih tertarik mengambil anakannya untuk dimasak. Berbeda dengan saat ini. Ketika mengetahui harga madu terhitung mahal, dia mulai memanfaatkan madu dari sarang lebah yang kemudian dijual maupun dikonsumsi.

“Ternyata begitu panen, satu kotak bisa dapat Rp 1,2 juta. Coba kalau pas musim hujan, punya 5 kotak saja, sudah bisa dapat Rp 5 juta, kan,” kata Sugeng saat ditemui beberapa waktu lalu di Wulenpari, Jelok, Beji, Patuk, Gunung Kidul.

Memantik Kedatangan Koloni Lebah

Mulanya, Sugeng membuat kotak yang kemudian dipasang di dekat pepohonan. Sugeng mengatakan, dari sekian kotak yang disediakan di kebun belakang Wulenpari, terdapat 4 kotak yang telah berisi koloni lebah. Sedangkan yang berada di rumahnya, terdapat 8 kotak yang berisi koloni lebah, dari 30 kotak yang telah disiapkan sedemikian rupa.

Semua lebah tersebut, terang Sugeng, datang dengan sendirinya. Pernah juga, ketika ada seseorang menemukan sarang koloni lebah di suatu tempat, oleh Sugeng dibeli seharga Rp 50 ribu. Kemudian, sarang yang berisi koloni lebah tersebut dipindah ke kotak yang telah disiapkan.

Sugeng menjelaskan, selama membudidayakan lebah, modal utama yang dilakukannya ialah menyediakan kotak kosong yang digantung di pohon maupun di atas batang kayu yang ditancapkan di lahan perkebunan. Butuh waktu sekitar 15 hari sampai sebulan untuk menanti kedatangan koloni lebah.

Guna memancing kedatangan koloni lebah, Sugeng membakar daun kelapa yang kemudian dimasukkan ke dalam kotak kosong berukuran 50 cm (lebar) x 40 cm (tinggi). Di dalam kotak dekat bagian pembuka dan penutup, diberi penyekat kayu atau frame berukuran 40,2 cm, dengan tebal 1 cm, posisi menyamping. Dengan begitu, lebah akan membuat sarang di bawah sekatan kayu.

Baca Juga:  Peserta Sekolah Jurnalisme Desa #4 Sleman Cetuskan Deklarasi Tebing Breksi

“Kalau sesuai pedoman yang ada, ukurannya segitu. Tapi bisa kurang, bisa juga lebih,” tambah pria yang selain bertani di lahan miliknya, juga bekerja mengurus lahan pertanian di Wulenpari.

Sugeng mengontrol kotak lebah madunya (Foto: Wiradesa)

Sejauh ini, Sugeng membudidayakan lebah lokal sejenis cerana. Kondisi banyaknya pohon jati, juga berpengaruh terhadap jumlah koloni lebah yang berdatangan. “Kalau banyak tanaman, terutama pohon jati, nggak perlu ngasih makan. Cukup ngasih tempat. Lebah-lebah itu akan menghasilkan madu. Jadi tanpa harus membiayai,” ujar Sugeng.

Termasuk sarang/tempat madu/propolis, serta anakan, secara otomatis, koloni lebah memproduksi semua itu. “Tapi gini, dari 9 frame yang disediakan, nggak semuanya digunakan bersarang. Sekitar 6-7 frame, tergantung lebah tersebut lebih suka mepet ke kanan, kiri, atau bahkan mojok,” ujar Sugeng sembari memperlihatkan kotak yang masih kosong serta yang sudah berisi lebah.

Datangnya Lebah

Datangnya lebah berdasarakan musim, yakni penghujan. Lebih seringnya, pada peralihan musim dari kemarau ke penghujan. Sebab, semula para lebah tinggal di lubang-lubang tanah sehingga mudah kehujanan. Akhirnya, mereka pindah dan mencari tempat baru. “Ketika musim penghujan, lebah yang berdatangan terhitung cepat. Memasang kotak kosong belum ada sebulan saja, sudah pada berdatangan,” ucap Sugeng.

Sekalinya datang ke tempat tinggal baru, ada sekitar 2000-3000 lebah/koloni. Umumnya, setiap koloni terdapat 1 ratu. Namun, tidak menutup kemungkinan, dalam satu koloni terdapat 2 ratu. Ketika terjadi demikian, maka perlu dipecah menjadi dua koloni. “Selain harus selalu mengamati, juga ribet,” kesahnya.

Sejauh ini, Sugeng belum pernah memecah satu koloni menjadi dua. Sebab dia belum banyak belajar tentang itu. Yang pernah dilakukannya sebatas membawa pulang sarang koloni lebah dan memindahkannya ke kotak. Ia juga banyak belajar cara agar tidak mudah disengat saat memindahkan.

Meskipun begitu, Sugeng tetap mencoba menjelaskan sepengetahuannya. Yakni, sebelum memecah koloni yang di dalamnya terdapat 2 ratu, terlebih dahulu harus mengamatinya secara rutin, tiga hari sekali. Saat ratu kedua sudah mulai keluar dari sarangnya, lalu diambil dan dimasukkan ke kotak baru. Sebelum itu, sayapnya harus dipotong agar tidak terbang. Kemudian, badannya diikatkan di frame. Sebab kalau tidak begitu, ia bisa pergi dan jatuh, lalu dimakan semut.

Baca Juga:  Ngeposari Berbenah Diri Jadi Destinasi Wisata Alam dan Budaya

“Terus, pejantan, prajurit, serta pekerjanya diambilkan dari koloni tersebut. Secara otomatis, sebagain dari koloni itu sudah mengikuti,” terang Sugeng.

Panen Madu

Saat panen, Sugeng mengangkat frame yang terdapat sarang lebah. Cara mengambil madunya, sarang/propolis dipotong atau dibelah menjadi dua. Setelah jatuh, madunya akan keluar. Kemudian anakannya dikembalikan seperti semula, dan diikat di frame dengan tali. Dalam seminggu, sarang tersebut sudah direnovasi oleh koloni lebah.

Dari kedatangan lebah hingga masa panen madu, membutuhkan waktu minimal 2 bulan. Ketika sudah menetap dari semula, madu bisa dipanen setiap bulan atau sebulan sekali. “Harus sering-sering nengok. Terutama saat musim gugur dan semi,” ungkap Sugeng.

Selain itu, kalau koloni di dalam kotak lebih banyak, semisal frame-nya terisi semua, madu juga bisa dipanen sebulan sekali. “Sekali panen, satu kotaknya, tergantung koloni. Kalau koloni sudah banyak, jadinya enak. Kemarin pas musim semi, satu kotak saya pernah dapat 4-5 botol marjan berisi 400-500 mg, dengan harga jual Rp 300 ribu/botol,” tambah Sugeng.

Dalam setahun, madu bisa dipanen 4 kali/kotak. Akan tetapi, Sugeng mengeluhkan, saat ini banyak terjadi kecurangan. Tidak jarang, di sekitar pekarangan tempat budidaya lebahnya, terdapat pihak yang memasang gula batu yang kemudian dihisap oleh lebahnya. Ketika si lebah kembali ke rumahnya, hasil hisapan itu disemprotkan sebagai cadangan pangan dan makanan si lebah. Maka, ketika dipanen, madu yang dihasilkan tersebut sudah tidak murni lagi.

Mengenal Perlebahan

Sudah menjadi hukum alam, terang Sugeng, dalam satu koloni lebah, terdapat ratu, pejantan, pekerja, dan prajurit. Setiap dari mereka memiliki tugas masing-masing. Ratu, yang bertelur. Pejantan, mengawini ratu, setelah itu mati. Prajurit, menjaga ratu, telur, sarang maupun madu, serta bertugas mencari tempat baru ketika pindah rumah. Kemudian pekerja, yang menghasilkan madu untuk makan dan cadangan pangan.

Baca Juga:  Godong Wahung, Tanaman Liar Kaya Manfaat

Usia maksimal lebah ialah 4 bulan, lalu mati sekoloni, dan digantikan peranakannya. Nantinya, sarang untuk si ratu sudah tersedia. Dan untuk mengetahui mana si ratu dari peranakan tersebut, bisa dilihat dari bentuknya. Yaitu yang perutnya lebih panjang dan berwarna agak coklat kehitaman.

Mengenal Madu Murni

Madu yang bagus ialah berasal dari hisapan lebah pada pucuk-pucuk daun serta bunga kayu putih dan bunga pohon jati. Sedangkan bunga-bunga dari tanaman pangan seperti palawija, nantinya menjadi madu jel yang agak cair.

Kemurnian madu bisa dicek menggunakan tisu maupun koran. Kalau asli, ketika diteteskan ke tisu, tisu tersebut tidak basah. Sedangkan kalau disimpan di kulkas, tidak bisa membeku. Karakter madu murni ialah kuning kecoklatan, manis, dan bisa bertahan sampai 2 tahun. Kalau saat musim mahoni, rasanya menjadi agak pahit, tetapi dicari banyak orang.

Cara pengolahan madu agar kemurniannya tetap terjaga, yaitu dimasukkan ke plastik terlebih dahulu, kemudian diremas-remas. Setelah itu, plastik dilubangi dan disaring sebelum dikemas ke botol. “Tanpa dikukus atau direbus. Sebab kalau terkena uap, madunya sudah nggak murni lagi,” sahut Sugeng.

Selama ini, hasil panenan madu Sugeng dibeli oleh teman atau kenalan. Biasanya, bila ada pihak yang pesan, harus reservasi terlebih dahulu. Terkait rencana pengembangan, kata Sugeng, kalau ada modal, dia ada keinginan membeli sarang koloni lebah dari petani lebah atau pihak yang memperjualbelikannya.

Sebagaimana tanaman, ternak lebah juga bisa terkena hama. “Kadang ada juga yang minggat karena diganggu cicak, semut, serta hama lain,” pungkas Sugeng. (Septia Annur Rizkia)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *