Sekolah Tani Muda: Upaya Menyiapkan Regenerasi Petani Indonesia

  • Bagikan
Kegiatan bertani Sektimuda sebelum pandemi Covid-19 (Foto: IG/Sektimuda)

YOGYAKARTA – Berdiri sejak 2013, Sekolah Tani Muda (Sektimuda) merupakan sebuah organisasi yang mewadahi para anak muda dari berbagai latar belakang untuk belajar tentang pertanian. Sebelumnya, Muhammad Qomarun Najmi mengungkapkan, bekerja sama dengan Jenderal Soedirman Centre, Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (PUSTEK UGM) pada saat itu menyelenggarakan sekolah tani pada 2012, dengan melibatkan petani dan pegiat organisasi tani di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Bermula dari kajian PUSTEK UGM yang membahas tentang regenerasi petani, pria yang akrab disapa Qomar mengatakan, lahirnya Sektimuda bermula dari keresahan dia terhadap penurunan angka regenerasi petani di Indonesia, terkhusus di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Saat dihubungi beberapa waktu lalu, pria kelahiran Sleman tersebut menjelaskan, tingginya angka penurunan jumlah petani dikarenakan dua alasan. Pertama, profesi petani dianggap tidak mampu dijadikan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehingga beralih ke profesi lain. Kedua, sebagian besar petani terpaksa meninggalkan profesi petani dikarenakan tak lagi memiliki lahan pertanian untuk digarap.

Alasan-alasan tersebut memiliki akar permasalahan yang sama. Yakni tidak adanya jaminan perlindungan dari negara terhadap petani. Di samping itu, penelitian yang dilakukan PUSTEK UGM menyimpulkan, petani merupakan pihak yang paling rendah posisi tawar dan paling minim informasi dalam rantai distribusi produk pertanian.

Sejauh ini, Sektimuda memiliki lima divisi. Di antaranya pendidikan, pemberdayaan, penelitian, kemandirian, dan komunikasi. Setiap divisi memiliki program kerja yang harus dilakukan selama satu semester. Berdasarkan hasil evaluasi sekolah tani yang sudah dijalankan, kegiatan peningkatan kapasitas petani diselenggarakan di basis produksi petani.

Pembukaan Kelas Sektimuda

Pembukaan kelas pertama dilakukan pada 20 Desember 2013 di Pondok Pesantren (Ponpes) Mursyidulhadi, Plosokuning 3, Minomartani, Ngaglik, Sleman. Pada saat itu PUSTEK UGM bekerjasama dengan Serikat Petani Indonesia wilayah Yogyakarta dan Ponpes Mursyidul Hadi.

Baca Juga:  MIC UGM - Wiradesa Santuni 200 Anak Yatim Piatu

Kegiatan Sektimuda meliputi kelas tani, kemah tani, bakti tani, dan kunjungan praktisi. Untuk materi kelas tani, terdapat materi kelas dan materi praktek lahan.

Dalam perkembangannya, Sektimuda diselenggarakan di beberapa tempat. Sejauh ini, kegiatan Sektimuda sudah berjalan di Sukabumi, Bogor, Sleman, Bantul, Kulonprogo, Cirebon, Klaten, dan Karanganyar. “Persiapan Juni 2021 nanti, ada di Bekasi, Sukoharjo, Magelang, Temanggung, Kendal, dan Malang,” jelas alumni Peternakan UGM tersebut.

Memfasilitasi program pendidikan untuk para anak muda yang berkeinginan mempelajari dan mendalami pertanian, sampai saat ini, Sektimuda yang berpusat di Yogyakarta telah melahirkan 11 angkatan.

Dalam menjalin komunikasi organisasi, Sektimuda menerapkan sistem kekeluargaan. Sehingga, semua aktivitas mampu berjalan secara harmonis dan tidak kaku. Dengan semangat kerja kolektif, Sektimuda mengutamakan kebersamaan, kesetaraan, dan kemandirian. Maka, pusat pergerakannya berada di masing-masing tempat berkegiatan yang ada.

Pada 2016, pria yang saat ini berdomisili di Magelang tersebut mengatakan, Sektimuda juga bekerja sama menyelenggrakan kelas tani dengan mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tujuan Lahirnya Sektimuda

Tujuan berdirinya Sektimuda ialah sebagai wadah belajar serta saling berbagi pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas para anggota. Harapannya, untuk membantu mempermudah regenerasi petani.

Peningkatan kapasitas, tutur Qomar, dalam hal teknis meliputi manajemen dan perluasan jaringan. Terkait teknis pertanian, Sektimuda mengacu pada teks Indonesia Raya yang berbunyi “Hiduplah tanahku”, yang berarti menghidupkan kembali tanah-tanah. “Hiduplah negeriku”, dalam hal belajar membangun kelembagaan.

“Bangsaku, rakyatku, semuanya”, yakni belajar mengembangkan kegiatan usaha produktif secara kolektif, sekaligus mengembangkan koperasi sebagai upaya mewujudkan demokratisasi ekonomi. “Kita mulai dari demokratisasi pengetahuan, dikembangkan dalam demokratisasi ekonomi, sekaligus demokratisasi politik,” tutur Qomar.

Baca Juga:  Menteri Pertanian Minta UGM Dukung Pengembangan Pertanian dengan Riset

Sebagian alumni Sektimuda ada yang bertani serta membuat Sektimuda di tempat masing-masing. “Target kami di tahun ini, bisa jalan di 40 kabupaten Pulau Jawa. Tahun depan, juga berencana mengembangkannya di luar Jawa. Yang menyelenggarakan nantinya juga teman-teman alumni Sektimuda,” imbuhnya.

Sedangkan, lembaga yang telah bermitra dengan Sektimuda yaitu PUSTEK UGM, Serikat Petani Indonesia DIY, Ponpes Mursyidul Hadi, Dompet Dhuafa, Laboratorium Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga, Bidan Inisiator Indonesia, Agriculture Entrepreneur Clinic, CV Pendawa Kencana, Agradaya, Indmira, Yayasan Kesatriaan Entrepreneurship Indonesia, Kolektif Tani Pododuwe Karanganyar, Sanggar Tani Sanggang Sukoharjo, dan Kawasan Tani Mandiri Almond Temanggung.

“Semangatnya Sektimuda ialah desentralisasi. Jadi yang lebih pas, ada banyak pusatnya,” pungkas Qomar di akhir obrolan. (Septia Annur Rizkia)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *