Bripka Margadi Terapkan Konsep Pertanian Sayuran, Padi, Ikan dan Itik

  • Bagikan
Bripka Margadi SH, menerapkan sistem Sapantik: menanam padi kombinasi sayuran (kangkung) budidaya lele di antara tanaman padi dan memelihara itik di tepi sawah. (Foto: Wiradesa.co)

KEBUMEN – Hamparan sawah menghijau di samping kanan rumah Bripka Margadi SH. Setelah diamati, warga Desa Indrosari RT 01 RW 01 Kecamatan Buluspesantren itu juga menanam kangkung di pematang sawah, budidaya lele juga beternak itik.

Saat mendekati sawah, di antara tanaman padi terdengar bunyi kecipak ikan. Ikan lele bukan ikan liar tapi ikan budidaya. Tak sebagaimana konsep mina padi dengan kolam ikan di pinggiran sawah, ikan lele milik Margadi dilepas begitu saja di hamparan sawah hidup di antara tanaman padi dengan air berketinggian tak lebih dari 10 cm. Lele yang dibesarkan akan dipanen berbarengan dengan panen padi. Di bagian ujung sawah terdapat kandang itik.

Berdinas di Kantor Polsek Klirong Kebumen dan bertugas sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), Margadi punya kegemaran bertani. Ia menerapkan konsep pertanian ‘Sapantik’. Artinya sawah dimaksimalkan untuk budidaya sayuran (kangkung), padi, budidaya ikan sekaligus ternak itik dalam satu kawasan.

“Sapantik itu sebenarnya ide saya sendiri. Kependekan dari sayuran, padi, ikan dan itik,” jelas Margadi saat menerima kunjungan wiradesa.co di rumahnya Jumat 23 Juni 2023.

Praktik ‘Sapantik’, Margadi mengelola lahan persawahan seluas 30 ubin atau setara dengan luas 420 meter persegi. Dengan konsep Sapantik, Margadi ingin memaksimalkan potensi lahan pertanian sempit agar hasil yang dinikmati lebih banyak juga efisien.

Kandang itik memanfaatkan lokasi di pinggiran sawah. Kandang dibikin dengan luas 10 x 3 meter, diisi 25 itik. Sayuran kangkung berfungsi sebagai campuran ransum pakan itik.

Bagian tengah sawah diberi sedikit ruang tanpa tanaman padi. Bila kaleng pakan dipukul dan pakan ditebar serta merta ikan lele akan berkumpul di tengah ‘kemruyuk’ berebut pakan. (Foto: Wiradesa.co)

Lahan sawah 30 ubin ditebar 1000 bibit lele. Agar masa panen lele bisa berbarengan dengan musim panen padi maka saat tebar bibit lele dipilih bibit lele ukuran agak besar panjang 9-10 cm dengan harga satuan Rp 300.

Baca Juga:  Nilai Jual Lebih Tinggi, Petani Beralih Tanam Kangkung

Ikan lele dipanen terlebih dulu selang seminggu sebelum panen padi. Tebar benih lele dilakukan dua minggu setelah tanam. Mengikuti pola pertanian padi artinya lele bakal dipanen ketika usia panen padi sekitar empat bulan.

“Dengan model Sapantik ini, saya rasakan ada efisiensi pupuk, efisiensi pakan itik juga efisiensi pakan lele. Ketimbang dibudidayakan di kolam. Pakan lele selain pelet bersumber dari mikroorganisme dan lumut. Saat panen lele didapat satu kilogram isi 8-9 lele,” terangnya.

Pada percobaan awal tebar sekitar 500 lele saat panen didapat lele seberat 50 kg. Sedangkan panen padi jenis Ciherang pada luasan 30 ubin didapat padi lima kantong sekitar dua kwintal gabah.

Sementara itik dirasa efektif membasmi hama keong mas. Sehabis dibajak pakai traktor, itik dilepas ke persawahan agar memakan keong. Setelah diamati, lahan sawah milik Margadi aman dari serangan hama keong mas.

Untuk budidaya itik sengaja tak mengejar produksi telur. Dipelihara dari anakan (meri) harga beli Rp 5 ribu dalam tempo enam bulan, itik telah siap jual. Satu ekor itik umur enam bulan di pasaran harganya mencapai Rp 50 ribu. Mendekati hari raya harga jual bisa meningkat dua kali lipat bahkan lebih.

“Pakan itik irit bahkan bisa dibilang sangat murah. Komposisi pakan berupa katul plus mamel (ampas ketela) ditambah cacahan kangkung,” jelas Margadi.

Ke depan Margadi punya rencana saat panen ikan lele tak dipanen begitu saja namun mau diagendakan agar sawahnya bisa dijadikan sebagai wahana lomba mancing. Dengan konsep Sapantik, menurutnya, ikan lele lebih hemat pakan, pakan itik bisa dihemat dengan cacahan kangkung.

Uniknya lagi, pemupukan tak banyak butuh pupuk kimia buatan pabrik. Sepanjang musim padi hanya ditebar pupuk urea sebanyak 2,5 kg saat tanam. Pemupukan menggunakan pupuk kotoran unggas dilakukan sebelum lahan sawah ditraktor. Selebihnya hingga panen tak lagi diberikan pupuk jenis apa pun.

Baca Juga:  Panen Padi Sudah Tidak Pakai Ani-ani dan Tidak Ada Wiwitan

Di luar keahlian bertani, Margadi punya satu keahlian lain dalam terapi gurah, pijat syaraf dan bekam. Ia kerap dimintai tolong melakukan gurah dan memberi terapi pijat syaraf oleh warga yang punya keluhan kesehatan.

“Khusus terapi gurah sudah jalan 10 tahun. Dulu saat tugas di Polres Katingan Kalimantan Tengah sempat buka layanan gurah. Waktu itu di-BKO (Bawah Kendali Operasi-red) untuk membantu penanganan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan,” ujarnya.

Kisah Bripka Margadi SH dengan keahlian gurah bakal dibabar di tulisan berikutnya. (Sukron Makmun)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *