Sistem Cetak Sawah Cerdas Air Studio Tani Kali Suci Setahun Panen Tiga Kali

  • Bagikan
Tanaman padi sistem cetak sawah cerdas air Studio Tani Kali Suci Semanu tumbuh subur meski berada di kawasan tanah sekitar yang tandus. (Foto: Wiradesa)

GUNUNGKIDUL – Dalam hitungan 20 hari ke depan, lahan sistem cetak sawah cerdas air di Studio Tani Kali Suci bakal panen. Uniknya, lahan seluas 4×9 meter sebelumnya termasuk lahan tidak produktif. Dengan rekayasa yang diterapkan pemilik Studio Tani Kali Suci Tri Madi Wiyono, kini, area tersebut bisa menghasilkan padi sebanyak 11 kg setiap kali panen.

“Dengan sistem cetak sawah cerdas air tiap panen tidak hanya menghasilkan beras tapi juga dapat memanen produk perikanan seperti nila, belut,” kata Tri Madi Wiyono, Rabu 17 Mei 2023.

Sistem cetak sawah cerdas air kreasi Wiyono menggabungkan antara pertanian dan perikanan dalam satu tempat pada lahan tidak produktif dan gersang. Dengan sistem ini yang dihasilkan lebih berkualitas. Selain waktu panen padi juga lebih cepat dibanding pada sawah biasa.

“Padi hasil dari sistem ini lebih putih bersih dan lebih besar, terus waktu panen juga bisa lebih cepat, setahun bisa panen 3 kali” ujar Wiyono sambil menunjukan hasil padi dari sistem cetak sawah cerdas air.

Panen gabah sistem cetak sawah cerdas air. (Foto: Wiradesa)

Wiyono terinspirasi sistem mina padi di Sleman, yang kemudian dikreasikan dan disesuaikan dengan kondisi alam di Gunungkidul yang gersang dan sulit air.
Ia membuat lahan sawah dengan bentuk seperti kolam sedalam 30 cm untuk area tanam padi dan 60 cm untuk area kolam kemudian dilapisi plastik UV dan diuruk media tanam tanah dan pupuk kandang serta diisi air.

“Awalnya saya terinspirasi dari sistem mina padi yang ada di Sleman, disana alamnya mendukung dengan adanya air yang melimpah, saya berpikir bagaimana caranya sistem ini bisa diterapkan di tempat saya,” ujarnya.

Wiyono berharap kreasi sistem pertanian dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat merangsang dan mendorong anak muda untuk mengembangkan pertanian di Gunungkidul khususnya daerah Semanu. (Aboe Bakar)

Baca Juga:  Panen Padi Sudah Tidak Pakai Ani-ani dan Tidak Ada Wiwitan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *