Agradaya: Bisnis Sosial untuk Pemberdayaan Petani Rempah

  • Bagikan
Andhika Mahardika, salah seorang penggagas Agradaya (Foto: Agradaya)

SLEMAN – Jalan hidup masing-masing orang tentu berbeda. Begitu dengan Andhika Mahardika (32), lulusan teknik mesin Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang saat ini bergelut di bidang pertanian. Untuk bisa sampai pada keputusan itu, banyak hal yang harus dilalui. Termasuk, tak lelah untuk terus belajar dan menempa diri sebagai bekal dalam mengarungi arus perjalanan hidup yang telah dipilihnya.

Keputusan membangun usaha yang tak sebatas urusan bisnis, tetapi terdapat unsur pemberdayaan petani lokal, berangkat dari kepedulian Andhika terhadap keberlangsungan alam dan masyarakat.

Dengan menggagas Agradaya, Andhika beserta istri, Asri Saraswati, menjadikannya sebagai wirausaha sosial yang fokus pada pengembangan tanaman rempah natural, bermitra dengan 300 petani lokal yang ada di Yogyakarta dan Trenggalek. Para petani membudidayakan dan mengolah tanaman rempah biofarmaka seperti jahe, temulawak, dan kunyit.

Latar Belakang Berdirinya Agradaya

Sebelum nama Agradaya tercetus, ada hal yang melatarbelakangi. Andhika mengisahkan, dulu ia sempat bekerja di perusahaan besar, Samsung Electronic di Cikarang. Merasa bosan dengan aktivitas itu-itu saja yang baginya tak memberi manfaat pada kehidupan masyarakat yang lebih membutuhkan, tepat sekitar 2011/2012, Andhika memutuskan resign dan mengikuti program Indonesia Mengajar.

Diterangkan Andhika, putra sulung Mahroni dan Murdiati, kurang lebih selama 16 bulan ia mengajar di daerah pedalaman di Aceh Utara. Di momen itu, Andhika bertemu dengan Asri yang ternyata memiliki keresahan yang sama.

Tepat 2014, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk memulai hidupnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bertempat tinggal di Desa Sendangrejo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Andhika beserta Asri mulai melakukan upaya untuk lebih mengenal lingkungan. Observasi dilakukan dengan pelan dan bertahap, sembari melakukan pendekatan ke masyarakat.

Dilihatnya, masyarakat di sekitar mereka, mayoritas berprofesi sebagai petani. Ditambah, saat itu mereka menemukan riset yang mengatakan sepuluh tahun terakhir, pasar produk sehat semakin meningkat.

Melihat peluang yang ada, ditambah keinginan membuka usaha yang bisa memberi impact ke banyak orang, pada 2014, Andhika mulai membuka usaha olahan rempah-rempah, yang melibatkan peran petani lokal. Dikatakannya, 2014-2016, merupakan tahun-tahun bereksplorasi.

Yang mulanya hanya berdua, terang Andhika, Agradaya mulai berkolaborasi dan bermitra dengan komunitas maupun lembaga lain. Seperti Sekolah Tani Muda dan Yayasan Pasar Desa Kota (Kerabat Desa Kota) yang sudah menggunakan teknologi pengeringan rumah surya dari 2005.

Andhika dan Istri, beserta tim Agradaya (Foto: Agradaya)

Sempat bingung dengan modal secara materi, dikatakan Andhika, ia sangat bersyukur, berkat modal network/relasi, Andhika terbantu bisa mempereloh dana dari Australian Embassy.

Diceritakannya, beberapa kenalan yang pernah bekerja di Australian Embassy memberitahu mereka kalau saat itu, Australian Embassy sedang membuka program untuk aktivitas community development yang berkaitan dengan perempuan dan pertanian.

Usai mengajukan permohonan, Agradaya mendapat Rp 700 juta yang itu hanya diperbolehkan untuk kegiatan community development. Oleh Andhika, digunakan untuk membuat pelatihan, membeli alat pengering, pupuk, pengadaan bibit seperti jahe dan temulawak.

Baca Juga:  Berwisata dan Belajar Budidaya Nila di Desa Wisata Gabugan

Dari itu, pada 2016, pengembangan biofarmika tanaman rempah-rempah seperti kunyit, jahe dan temulawak dengan menggandeng para petani lokal, berekspansi menggunakan teknologi rumah surya. Diakui Andhika, selain bisnis, Agradaya juga fokus ke edukasi pengolahan pascapanen beserta pemasaran.

Semenjak 2018, Agradaya mulai merekrut tim yang berlatar belakang teknologi pertanian. Adalah Ganang, yang fokus pada teknis budidaya. Selain itu, Ganang juga bertugas mendampingi para petani dalam hal perawatan. Semisal ketika rimpang mengalami pembusukan, terkena penyakit baik hama maupun gulma.

Proses Pengolahan Biofarmaka

Dalam prosesnya, kata Andhika, terbagi menjadi dua tahap. Pertama oleh para petani mitra Agradaya yang saat ini ada di Kulonprogo, Sleman, Gunungkidul, dan Trenggalek.

Di masing-masing tempat yang ada di daerah tersebut, terdapat tempat pengolahan semacam rumah produksi yang sudah dilengkapi rumah surya untuk membantu proses pengeringan, sehingga menjadi rempah kering berbentuk e-cips.

Kedua, didistribusikan ke rumah produksi Agradaya yang berada di Sendangrejo, Sleman, untuk disortir, digiling serbuk, giling halus dan kasar, baru kemudian menjadi produk yang sudah siap dikemas lalu didistribusikan ke pasar.

Andhika yang saat itu berada di teras rumahnya yang berdekatan dengan rumah produksi Agradaya menyampaikan, mitra Agradaya yang berada di Yogya sekitar 200 petani/kelompok tani. Sedangkan secara keseluruhan, diperkirakan 300 petani/kempok tani. “Di kecamatan Ngawen juga ada, tapi lebih ke budidaya saja. Tidak sampai ke tahap pengeringan,” ujar pria kelahiran Pemalang tersebut.

Tambah Andhika, pendekatan di masing-masing tempat tidak bisa disamakan. Masing-masing memiliki tantangan yang berbeda-beda. Misalnya dari Kelompok Wanita Tani Pringtali Asri Hutan Kemasyarakatan Nuju Makmur, PKK Kedungprau Planden, Perkumpulan Persaudaraan Hindu Dharma Ngawen, Bumdesma Saribumi Pule. Sedangkan yang di Samigaluh, ada perkumpulan 30 ibu-ibu yang anaknya menerima beasiswa dari satu yayasan.

Sejauh ini, tandas Andhika, karena usaha yang dibangun berbasis sosial, keuntungan yang diambil juga tak banyak. Dijelaskan, margin profit dikatakan ideal, umumnya 30%. Sedangkan Agradaya, mengambil keuntungan berkisar 5-10%. “Itu juga karena cost kami banyak. “Buat beli bahan rempah-rempah dari petani dengan harga yang mahal,” tukas Andhika.

Salah satu proses produksi produk-produk Agradaya (Foto: Agradaya)

Sebagai upaya pemberdayaan petani rempah-rempah lokal, yang pada umumnya harga pasar untuk 1 kg kunyit Rp 15 ribu- Rp 20 ribu, oleh Agradaya dibeli Rp 60 ribu/kg. “Jadi bisa dibilang tiga kali lipat lebih mahal. Ya, karena memang komitmen kami, mudah-mudahan selalu bisa meningkatkan kesejahteraan petani lewat proses pengolahan rempah tersebut,“ imbuhnya.

Tantangan

Di setiap tahapan maupun momen, baik di awal hingga saat ini, jelas Andhika, selalu ada tantangan tersendiri. Mulai dari masih minimnya pengetahuan di tahap uji coba, proses pemasaran, validitas produk, hingga permodalan yang awalnya masih memakai modal sendiri yang tak bertahan lama. Sehingga, Agradaya mulai belajar kolaborasi dengan pihak lain, termasuk urusan pendanaan, serta soft skill tentang bisnis.

Baca Juga:  Warga Desa Tambakagung Pulihkan Ekonomi Keluarga dengan Tempe, Tahu, dan Telor

Diakui Andhika, keilmuan tentang pertanian dan bisnis yang mereka miliki masih terbatas. Sembari belajar, mereka mengikuti beberapa program inkubasi bisnis dengan para guru maupun mentor. Ditambah, mulai melibatkan pihak lain yang sudah ahli di bidang natural farming dan pengolahan pasca panen.

Tantangan lain, saingan pasar menjadi banyak dengan harga yang jauh lebih murah. Akan tetapi, Andhika yakin, kualitas yang berbicara. “Pemain baru memang banyak, tapi nggak semuanya punya legalitas BPOM, label halal, juga ketelusuran produk. Ya, konsumen yang paham, akan tahu sendiri mana produk yang berkualitas dan tidak,” tandas Andhika.

Natural Farming

Prinsip dari natural farming ialah menggunakan bahan alam. Termasuk menggunakan pupuk natural yang kandungan nitrogennya diambil dari kencing kambing atau kelinci. Sedangkan pengganti pestisida diambil dari fermentasi tanaman yang pedas atau pahit.

Diterangkan Andhika, hampir di semua tempat petani mitra Agradaya berada, dari dulu mereka sudah menanam rempah-rempah. Keberadaan Agradaya membantu memberi pemahaman ke para petani agar tetap menggunakan bahan-bahan dari alam. Pun, sebelumnya, mereka juga sudah melakukan pendekatan secara alamiah. Yakni menggunakan pupuk kandang dari kotoran sapi maupun kambing yang sudah kering, kemudian dicampur dengan kompos, lalu dimasukkan ke tanaman mereka.

Penguatan ke natural farming sebab petani mitra Agradaya dalam penanaman bersifat tumpang sari, bukan monokultur dengan area lahan yang luas. Selain itu, supaya petani lebih percaya diri mengggunakan bahan alam.

Strategi Pemasaran

Mengenai teknik pemasaran di media sosial, Agradaya lebih menonjolkan sisi emosional branding daripada menampilkan produknya. Yaitu story behind produk seperti membicarakan tentang petani maupun pertanian, teknologi pengolahan, disertai semangat tim untuk terus bergerak dan berproduksi.

Untuk proses distribusi, Agradaya membuka peluang reseller, agen, atau distributor, dan pelayanan dilakukan secara online maupun offline. Sejauh ini, pembeli maupun pelanggan masih dalam lingkup nasional. Dan, tim pengelola terdiri 12 orang dengan tugas yang berbeda-beda.

Selama pandemi, penjualan produk Agradaya meningkat sekitar 3-5 kali lipat dari sebelumnya. “Bulan Maret-Juli 2020, itu lagi kenceng-kencengnya pesanan,” tutur Andhika dengan nada santai, lugas, tapi santun

Ditambahkan, Andhika merasa terbantu di sisi edukasi market. Sebab, banyak kalangan yang turut menyampaikan manfaat dari kandungan rempah-rempah, yakni membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

“Sebelumnya lumayan susah menyampaikan tentang manfaat seperti temulawak. Belum lagi masih adanya stigma tentang jamu tradisional yang hanya diperuntukkan buat orang tua,” ucap Andhika.

Prinsip Menjalankan Roda Usaha

Andhika pun menegaskan, modal tidak melulu tentang keuangan. Relasi, niat, tekad, juga termasuk modal.

Dalam menjalankan usaha Agradaya, prinsip yang dipegang Andhika, semua barang merupakan produk lokal, menggunakan pendekatan skema pertanian yang berkelanjutan dengan menerapkan natural farming, serta menggunakan energi terbarukan atau rumah surya untuk meningkatkan nilai tambah rempah-rempah pascapanen. Juga, memperhatikan higienitas dan standar produk.

Baca Juga:  KWT Srikandi Juara V Nasional Lomba Kawasan Rumah Pangan Lestari 2020

Dijelaskan Andhika, rumah surya memilik ragam manfaat. Di antaranya, menangkal sinar ultraviolet, warna yang dihasilkan lebih cerah, suhu pengeringan yang ada di dalamnya jauh lebih tinggi dibanding ruangan terbuka. Sehingga, proses keringnya lebih cepat, bergantung radiasi sinar matahari.

Dan ketika mendung, bisa menggunakan tungku biomasa di bagian belakang, dengan bahan bakar kayu yang dibakar. Hanya saja, lebih repot karena harus membakar kayu setiap 4-5 jam sekali.

Strategi dalam Membangun Usaha

Tidak ada yang mudah. Begitu dengan bisnis yang dijalankan Andhika. “Semuanya susah. Jadi saya akui, bisnis itu sulit, tapi pasti ada jalannya. Dulu saya nggak tahu strategi pemasarannya, modal dari mana, lalu kami belajar strategi pemodalan lewat pihak ketiga. Termasuk yang di Trenggalek itu, modalnya bukan dari kami. Untuk unit pengeringannya, itu dari dana desa. Jadi, modalnya pun network lagi,” kata Andhika.

Dalam menghadapi suatu masalah, terang Andhika, sebagai founder, ia melakukuan banyak analisa. Baik secara internal maupun eksternal. Terlebih, latar belakang tim Agradaya saat ini sangat beragam.

Di saat ada masalah, pertama-tama, diselesaikan di internal. Namun ketika belum ada titik temu, didatangkan pihak lain. Bisa dari sesama produsen obat tradisional atau pengusaha jamu. Di situ, ada semacam mentor yang secara terbuka mempersilakan untuk mengekploitasi ilmu yang sudah mereka miliki. Bisa pula dengan beberapa mentor di lintas bisnis yang digeluti Andhika.

Dalam menjalankan roda bisnis, di setiap minggu selalu ada laporan keuangan dan laporan dari setiap divisi. Sedangkan untuk meeting besar dilakukan di setiap bulan untuk menganalisa penjualan selama sebulan dan tindak lanjut sebulan ke depan.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, ada aspek-aspek yang diperhatikan secara cermat oleh Andhika. Yaitu dari proses produksi, operasional, community, hingga pemasaran, memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Untuk saat ini, Agradaya sedang mengurus label agar bisa masuk pasar ekspor.

Sedangkan di pihak petaninya, diadakan pertemuan atau dilakukan monitoring setiap bulan. Serta, dengan terbuka, Agradaya menerima saran dan kritik untuk keberlangsungan kualitas produk.
Bagi Andhika, belajar sudah menjadi keharusan, baik di sisi produksi maupun pemasaran. Sebab menurutnya, kondisi pasar selalu fleksibel. Dan, strategi yang digunakan Agradaya lebih ke digital marketting. Baik di marketplace maupun media sosial. “Kuncinya lebih ke baca data, review, analisa, kemudian dari masalah yang ada, kami mencoba mencari perbaikan yang lebih baik,” ungkap Ayah dari satu anak tersebut.

Di setiap kesempatan, Agradaya juga tak luput melakukan pengembangan produk. “Kami kan punya 3 varian produk yang spesies powder, tissan, dan herbalatte. Nah di tahun ini, ada 3 produk baru yang akan diluncurkan. Kalau sekarang, total keseluruhan produk ada 12,” pungkas Andhika sebelum menutup perbincangan di pagi hari menjelang siang beberapa waktu yang lalu. (Septia Annur Rizkia)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *