Perubahan Cara Panen Padi di Indonesia

  • Bagikan
Petani di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tengah merontokkan gabah menggunakan mesin erek (Foto: Ono/Wiradesa)

BANTUL – Terjadi perubahan cara panen padi di Indonesia, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng). Jika dulu panen padi itu dipotong dengan alat ani-ani, kemudian dibabat pakai arit, dan sekarang dipanen pakai alat mesin traktor.

Ketiga cara panen itu ada kelebihan dan kekurangannya. Namun sangat penting diketahui warga milenial, agar tidak tercerabut dari akar budaya tradisional. Karena sistem panen padi itu terkait dengan perkembangan budaya di Indonesia.

Panen padi dengan ani-ani, sarat dengan nilai-nilai kebudayaan petani setempat. Sebelum padi menguning yang siap dipanen, ada prosesi wiwitan. Pelaksanaan wiwitan ini terkandung nilai-nilai yang baik bagi kehidupan. Karena ada rasa syukur, berbagi, dan menghargai tanaman yang berarti bagi kehidupan petani.

Ubo rampe wiwitan terdiri dari tumpeng nasi, lengkap dengan ayam panggang, sayur urap, gereh pethek, dan sambal kacang panjang. Biasanya petani mengambil tempat di pojok sawah, membuat boneka Dewi Sri dari tanaman padi, terus berdoa mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah itu, pemilik sawah mengambil sebagian wiwitan untuk ditaruh di sejumlah pojok sawah yang akan dipanen. Kemudian sisanya dibagi kepada masyarakat yang ikut ke sawah. Anak-anak desa sangat gembira dan bersemangat mengikuti prosesi wiwitan.

Satu hari setelah acara wiwitan, dilaksanakan panen padi. Umumnya hanya perempuan atau ibu-ibu petani yang melakukan pemotongan padi. Cara motongnya dengan alat ani-ani yang dijapit dengan jari.

Kelebihan cara panen dengan ani-ani ini, hasil gabahnya bisa maksimal. Karena ibu-ibu petani itu telaten, sehingga sedikit sekali gabah yang tersisa di tanaman padi atau jerami. Kekurangannya, proses panennya lama dan sangat tergantung dari ibu-ibu petani atau kaum perempuan.

Baca Juga:  Tandur Padi di Era Pandemi

Selanjutnya terjadi perubahan cara panen padi. Jika semula dipotong pakai alat ani-ani dan dilakukan ibu-ibu, dalam perkembangannya cara panen padinya dibabat pakai arit atau sabit dan dilakukan bapak-bapak petani atau kaum laki-laki.

Hasil panen padinya tidak langsung dibawa pulang, tetapi gabahnya dirontokkan di sawah pakai alat perontok gabah yang dijalankan dengan diesel. Para petani menyebut alat tersebut bernama erek-erek.

“Sekarang di sini sudah tidak ada ani-ani. Jika panen ya dibabat seperti itu. Kemudian langsung dierek di sawah,” ujar Adiawan, seorang petani di Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY, Jumat 16 April 2021.

Kelebihan cara panen padi dengan dibabat pakai sabit, waktunya cepat dan bisa dilakukan siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Tetapi kekurangannya, cukup banyak gabah yang tersisa di tanaman padi. Apalagi, biasanya yang memotong batang padi itu para peternak sapi.

Erek-erek, alat perontok gabah yang banyak digunakan petani Indonesia masa kini (Foto: Ono/Wiradesa)

Pemilik mesin Erek dari Bawuran, Pleret, Bantul, Sutar mengemukakan setiap erek-ereknya disewa, sedikitnya tujuh orang pencari jerami yang mengikutinya. Pemilik sawah tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membabat padinya. “Upahnya bukan uang, tetapi jerami yang dibabatnya,” kata Sutar.

Perkembangan saat ini, cara panen padi menggunakan alat pemotong yang dijalankan dengan mesin traktor. Kelebihan dengan cara ini, waktunya relatif cepat dan hasilnya lebih maksimal. Tetapi kekurangannya, petani mengeluarkan biaya besar untuk sewa mesin pemotong.

Akhirnya, perkembangan zaman akan berpengaruh pada cara bercocok tanam di Indonesia. Semoga perkembangan cara panen padi itu semakin menyejahterakan petani, bukan justru sebaliknya semakin memperburuk nasib petani di Indonesia. (Ono)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *