Klaten Lumbung Padi di Jawa Tengah

  • Bagikan
Petani memanen padi di hamparan sawah Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten. (Foto: Istimewa)

KLATEN – Kabupaten Klaten merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Tengah (Jateng). Wilayah ini memiliki hamparan persawahan sekitar 30.900 hektar dengan produksi sedikitnya 480.023 ton gabah kering giling pada 2021.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Klaten, Widiyanti, menjelaskan dari tahun ke tahun, sampai tahun 2021, Klaten mengalami surplus beras. Pada tahun 2020 surplus berasnya mencapai 141.000 ton.

Pada tahun 2020, produksi berasnya 267.000 ton beras. Sedangkan kebutuhan konsumsinya 126.000 ton beras. Sehingga ada surplus beras 141.000 ton. Dengan kondisi seperti ini, Pemerintah Kabupaten Klaten menolak impor beras masuk Klaten.

Bupati Klaten Sri Mulyani mengungkapkan, Klaten memiliki tanah yang subur dengan produksi beras yang melimpah. Untuk itu, pihaknya siap mempertahankan Klaten sebagai lumbung pangan nasional.

”Klaten sebagai lumbung pangan nasional maupun Jawa Tengah harus dipertahankan. Meski petani mengelolanya secara manual dan tradisional. Apalagi para petaninya kebanyakan relatif sudah tua, tetapi mereka penyangga pangan kita. Semoga ada genarasi muda yang bisa melanjutkan,” jelasnya.

Dalam upaya mempertahankan status lumbung pangan nasional, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten menaikkan produktivitas padi sebesar 6,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektar. Apabila disetarakan menjadi gabah kering panen (GKP) bisa sampai 7 ton per hektar.

”Kalau dalam satu tahun ini luas tanam di Klaten sekitar 70 ribu hektar, maka produksinya sampai 400 ribu ton. Ditambah tahun kemarin juga ada surplus 141 ribu ton beras. Untuk produksi kemarin 267 ribu ton beras dan konsumsi hanya 126 ribu ton beras,” jelas Widiyanti, kemarin.

Widiyanti menjelaskan, pada bulan Maret luas panen raya 11.000 hektar, April 10.300 hektar, Mei 4.500 hektar, dan Juni 6.000 hektar. Panen raya dari April-Juni bisa mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Klaten sampai Oktober. Jika dikonversikan dalam beras menjadi 77.000 ton.

Baca Juga:  Padi “Amphibi” Gamagora: Inovasi UGM untuk Indonesia

”Jadi tidak perlu khawatir terkait ketersediaan pangan di Klaten. Baik di hari-hari besar (Ramadan) masih mencukupi dan memadai untuk kebutuhan pangan masyarakat Klaten,” jelas Widiyanti.

Dia mengungkapkan, pemkab sebenarnya memiliki cadangan pangan berupa beras. Termasuk memiliki 31 lumbung pangan di desa dengan fasilitas gudang dan lantai jemur. Masing-masing lumbung pangan terdapat delapan ton hingga 10 ton gabah yang dikelola gabungan kelompok petani (Gapoktan). (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *