Pupuk Dasar Berpengaruh Besar Pada Kesuburan Tanaman Porang

  • Bagikan
Mahmudi, petani porang asal Borosuci, Banjarasri, Kalibawang, Kulonprogo (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Porang tanaman yang tengah banyak dibicarakan kalangan petani beberapa waktu belakangan ini. Besarnya permintaan pasar ditambah harga jual tinggi membuat bertani porang makin dilirik.

Seperti dijalani Mahmudi. Petani porang asal Borosuci, Banjarasri, Kalibawang, Kulonprogo, mulai menanam porang pada 2016. Saat ini dia menanam porang di lahan seluas kurang lebih satu hektar. “Saya memulainya bertani porang sejak 2016. Untuk luas lahan yang saya tanami sekitar satu hektar ada, tapi terpisah-pisah,” katanya, Sabtu 10 April 2021.

Laki-laki kelahiran Nganjuk itu mengatakan, bagus atau tidaknya porang saat dipanen tergantung pada kualitas tanah. Selain itu, proses pengolahan lahan dan bagaimana dalam menjaga kadar air turut berpengaruh.

“Paling utama pupuk dasar terlebih dahulu. Kalau pupuk dasar sudah jadi, maka di masa pengisian umbi nggak dipupuk pun tetap bagus. Biasanya sebelum penanaman, saya menggunakan kotoran kambing, kotoran ayam dicampur sekam kotoran ayam. Kemudian ditaruh di lahan untuk diolah. Pada proses penggemburan sekam sangat pengaruh,” katanya.

Untuk jarak tanam antartanaman porang, Mahmudi sudah mencoba dari jarak 30 sentimeter hingga 70 sentimeter. Tetapi hasilnya tetap sama. Sehingga dia saat ini memilih jarak tanam 30 sentimeter agar lahannya terisi lebih banyak tanaman porang.

Mahmudi yang nyambi mengepul porang menuturkan, penanaman tanaman berjenis umbi-umbian tersebut paling bagus saat musim hujan tiba dan di daerah yang memiliki curah hujan tinggi. Karena hal itu berpengaruh pada pertumbuhan porang. Cukupnya kebutuhan air akan membuat umbi tersebut akan membesar. Tetapi apabila tanaman tersebut sampai kelebihan air sehingga terjadi genangan maka akan mengalami pembusukan.

“Curah hujan mempengaruhi. Kalau seperti tahun kemarin karena curah hujan sedikit. Empat bulan juga sudah bisa tumbuh, tetapi jadinya malah mengecil, bukan tambah besar. Soal lokasi saya memilih daerah pegunungan daripada dataran sebagai tempat penanaman porang. Kalo di dataran rendah hanya dijadikan tempat pembibitan,” katanya.

Baca Juga:  Sekolah Tani Muda: Upaya Menyiapkan Regenerasi Petani Indonesia

Lebih lanjut dia menerangkan harga 1 kilogram porang berbentuk umbi sekitar Rp 10 ribu, porang yang sudah berbentuk chip 1 kilonya Rp 60 – Rp 81 ribu Sebab itulah Mahmudi memilih menjadi petani porang. Disamping bertani dan menjadi pengepul, Mahmudi juga memberikan edukasi terkait penanaman porang kepada masyarakat yang belum memiliki pengetahuan soal porang. (Syarifuddin)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *