Pemuda Mentawai Belajar Pertanian Terpadu di Studio Tani Kalisuci Gunungkidul

  • Bagikan
Mina padi hasil rekayasa pemuda Mentawai. (Foto: Wiradesa)

GUNUNGKIDUL – Enam pemuda asal Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), belajar pertanian terpadu di Studio Tani Kalisuci Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka tidak hanya belajar tentang pertanian saja, tetapi juga peternakan dan perikanan.

Para pemuda yang difasilitasi Aksi Peduli Bangsa ini diharapkan mampu mengatasi persoalan pangan di Mentawai. Karena selama ini, penduduk Kepulauan Mentawai hanya mengandalkan hasil alam, khususnya hutan, untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Penduduk asli Mentawai biasanya berburu binatang, mencari ikan, udang, untuk dimakan. Mereka tidak mengenal bercocok tanam, menanam padi, berternak, dan budidaya ikan. “Jadi penduduk asli Mentawai hanya mencari untuk dimakan, bukan menanam atau budidaya,” ujar Ihsan Kaddad, asal Madobag, Siberut Selatan, saat ditemui Wiradesa.co di Studio Tani Kalisuci, Kamis 1 Desember 2022.

Ihsan Kaddad bersama Tariq Abdurrohman juga berasal dari Madobag, Siberut Selatan, Muhamad Yakub dari Sali Guma, Siberut Tengah, Afrizal yang tinggal di Muntei, Siberut Selatan, serta Rafli Ahfahzu dan Dedi Eka Putra asal Muara Siberut akan belajar selama empat bulan di Studi Tani Kalisuci, Dusun Tambak Rejo, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, mulai 13 September 2022 sampai 15 Januari 2023.

Anak-anak muda Mentawai ini belajar dan menanam langsung sayuran cabe, selada, sawi, tanam padi, budidaya lele dengan sistem yang dikembangkan Studio Tani Kalisuci. “Anak-anak menanam sayuran cabe dengan sistem mulsa, tanam selada dengan sistem hidroganik, budidaya lele sistem aquaponik, dan tanam padi sistem mina padi,” jelas Wiyono, pendiri Studio Tani Kalisuci.

Tanam cabe dengan sistem mulsa, sangat irit tenaga kerja. Pemasangan mulsa itu juga efektif untuk menanggulangi gulma dan suket yang biasa tumbuh di sekitar tanaman cabe. Nutrisi atau pupuk bisa optimal diserap oleh tanaman cabe. Kalau tidak dipasang mulsa, maka nutrisi akan jadi rebutan antara tanaman cabe, rumput, dan gulma. Selain itu dengan mulsa, maka hasil cabenya akan mengkilap atau kinclong.

Baca Juga:  Ketua Umum SMSI: Kita Tingkatkan Kebersamaan untuk Menjaga Negeri

Sedangkan selada dengan sistem hidroganik, hasil sayuran akan lebih sehat untuk dikonsumsi. Karena nutrisinya bukan dari bahan kimia, tetapi air kotoran lele yang difermentasi. Selain itu menanam sayuran dengan sistem hidroganik, perawatannya mudah dan cocok untuk lahan sempit, sehingga cocok untuk bertani di lahan yang terbatas atau tidak luas.

Tanaman sayuran selada dengan sistem hidroganik. (Foto: Wiradesa)

Budidaya ikan lele dengan sistem aquaponik memiliki dua keuntungan, yakni bisa panen lele dan panen sayuran. Biasanya untuk satu periode panen lele, bisa panen sayuran selada dua kali, panen sawi dua kali, dan panen kangkung lima kali. Aquaponik tidak memakai pupuk kimia, tetapi kotoran lele yang dialirkan melalui alat pemutar air. Air kotoran lele, tidak berbau amis dan tidak menyengat. “Air lele, benar-benar tidak berbau,” tegas Wiyono.

Selanjutnya tanam padi dengan sistem mina padi, juga menghasilkan dua keuntungan, yakni panen padi dan panen ikan nila. Sistem mina padi yang dilaksanakan Studio Tani Kalisuci merupakan rekayasa Cetak Sawah Cerdas Air. Caranya simpel, praktis, dan awet sampai puluhan tahun. Sehingga cocok diterapkan di daerah yang kekurangan air atau mahal air bersih.

Budidaya lele dengan sistem aquaponik. (Foto: Wiradesa)

Para pemuda Mentawai sudah paham dan telah memetakan masalah yang selama ini dihadapi di tempat tinggalnya wilayah Kepulauan Mentawai. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, memang harus direncanakan, disiapkan lahan, diolah, disemai, dirawat, dan dipanen. Bukan hanya mencari untuk dimakan. (Ono Jogja)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *