Menyulap Lahan Kosong Menjadi Kebun Sayur

  • Bagikan
Kebun Sayur Gemah Ripah (Foto: Syarifuddin/Wiradesa)

YOGYAKARTA – Kelompok Tani Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat bertani dan budidaya lele. Kegiatan tersebut berjalan sejak 2012.

Ada berbagai macam sayuran yang ditanam di kebun sayur Gemah Ripah. Tanaman sayuran itu, antara lain, kangkung, bayam, saledri, terong, tomat, dan salada. Sayur-sayur itu kini tumbuh subur di lahan yang dulunya bekas reruntuhan bangunan.

“Awalnya ini kosan. Kemudian runtuh gara-gara gempa dua ribu enam dulu. Karena lama gak diapa-apain, akhirnya di sini banyak rumput-rumput liar, jadi serem, dan eman juga toh. Melihat semua itu, kemudian ibu-ibu PKK RW kosong sembilan mempunyai ide untuk menemui yang punya pekarangan. Kita bilang mau meminjam tanahnya untuk membuat kelompok tani. Alhamdulillah, dibolehkan,” kata Koordinator kebun sayur Gemah Ripah Marfuah Herman, saat ditemui Wiradesa.co, Sabtu 13 Februari 2021.

Setelah diberikan izin, warga melakukan pembersihan, dan penataan lahan, selama kurang lebih dua bulan. Pembersihan tersebut dibantu Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Yogyakarta. “Kita dulu dibantu DPU untuk membersihkan reruntuhan bangunan yang ada di sini,” katanya. Setelah semua selesai, warga kemudian menanam beraneka sayuran menggunakan polibag. Sedangkan pembudidayaan lele, mereka menggunakan ember dan beberapa wadah besar lainnya.

Koordinator Kebun Sayur Gemah Ripah, Marfuah Herman (Foto: Syarifuddin/Wiradesa)

Pembangunan kebun sayur itu, mendapatkan bantuan dari berbagai lembaga. Sehingga saat ini, Gemah Ripah sudah memiliki sumur sendiri, memiliki kelistrikan sendiri, dan lahan hidroponik.

“Kita mengajukan proposal ke mana-mana. Akhirnya kita punya kelistrikan sendiri, punya sumur sendiri, akhirnya punya hidroponik, juga,” tuturnya.

Setiap hari anggota kelompok tani yang berjumlah 25 orang tersebut, bergantian untuk menyiram tanaman dan memberi makan lele di Gemah Ripah. Ada sekitar 2 atau 3 orang setiap harinya yang datang ke kebun.

Baca Juga:  KTD Lombok Ijo Tanam dan Olah Herbal

“Anggota kami ada dua puluh lima orang. Untuk penyiraman tiap harinya kita bergantian. Kadang dua orang, kadang tiga orang tiap harinya,” katanya.

Untuk pemasaran sayur dan lele, mereka tidak menjualnya ke luar. Tetapi mereka menjualnya kepada warga sekitar, dengan memanfaatkan grup WhatsApp. Penjualannya pun lebih murah dari pada harga pasaran.

Kebun Gemah Ripah selain menyumbang banyak oksigen, kebun sayur tersebut juga membantu ketahanan pangan warga sekitar. (Syarifuddin)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *