Mengenal Proses Pemanfaatan Umbi Porang Menjadi Produk Bernilai Tinggi

  • Bagikan
Umbi katak (bubil) porang, suweg, atau iles-iles (Foto: Wiradesa)

YOGYAKARTA – Porang atau yang dikenal dengan sebutan iles-iles maupun suweg, adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri.

Dilansir dari Kementerian Petanian, umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan ialah serat alami yang larut dalam air biasa, digunakan sebagai aditif makanan serupa emulsifier dan pengental. Selain itu juga bisa digunakan sebagai bahan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

Hana Sukemi, Konsultan UMKM Kulonprogo, mengirimkan pesan melalui WhatsApp, Minggu, 21 Februri 2021, tentang proses pemanfaatan umbi porang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya yaitu Cips Porang yang dikenal sebagai persediaan komoditi ekspor.

Terkait prosesnya, ia menjelaskan, umbi porang yang berasal dari petani, kemudian diiris tipis antara 2-2 mm, lalu dimasukkan ke oven atau bisa juga dijemur alami di bawah terik matahari. Kata dia, hasil oven dihargai lebih mahal, karena tingkat kekeringan merata, kadar bahan aktif tetap terjaga optimal, dan tidak rusak.

Sedangkan untuk proses penepungan, ia melanjutkan, oleh pabrik diikuti proses pemisahan oksalat, sebab bisa membuat gatal. Jadilah Tepung Porang sebagai bahan pangan alternatif yang dibutuhkan industri roti, jelly, mie, kuah, tepung komposit, dan lain-lain.

Untuk pemanfaatan lebih lanjut, terangnya, tepung porang foodgrade dimurnikan kadar Glucomannan-nya melalui proses ekstraksi untuk mendapatkan hasil Glucomannan Murni.

Kemudian, sebagaimana yang ia jelaskan, bahan aktif ini masuk ke industri obat tradisional, kosmetik, dan functional food.

Namun, ketersediaan Glucomannan spek industri untuk pemenuhan 3 industri di dalam negeri tersebut, untuk saat ini masih didominasi Glucomannan impor. Padahal, umbinya dari petani, cips porangnya di-ekspor dari dalam negeri, balik lagi ke dalam negeri dalam bentuk Tepung Glocomannan murni.

Baca Juga:  Budidaya Melon di Lahan 1 Meter x 7 Meter Hasilkan 120 Kg

Lebih lanjut lagi, Hana menerangkan, tepung porang atau Glucomannan diolah dengan HiTech, dipisah dengan kadar kemurnian Glucomannan di atas 89% dengan Teknologi Nano.  Kemudian menjadi Nano Herbal dari porang sebagai persediaan untuk pengembangan obat tradisional masa depan dan kosmetik alami bernilai ekonomi tinggi

Di akhir pesannya, ia menyampaikan, agar saling merawat tanaman porang, menjaga kesuburan lahan, dan kelestarian lingkungan dengan baik. Agar bisa saling mewariskan tanah yang subur dan kemakmuran kepada generasi penerus bangsa. ”Bukan mewariskan tanah yang rusak, atau bahkan malah mewariskan hutang,” tulisnya di WhatsApp.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor. Catatan Badan Karantina Petanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai eskpor mencapai Rp11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia, dan sebagainya.

Tertulis pula bahwa tanaman porang atau bahasa latinnya Amorphophallus oncophyllus ini adalah tanaman yang toleran naungan hingga 60%. Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 MDPL. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain. Untuk bibitnya, biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung. (Septia Annur Rizkia)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *