Menanam Porang Tumpangsari dengan Tanaman Keras

  • Bagikan

KULONPROGO – Tanaman porang menjadi hal menarik bagi petani di Kulonprogo saat ini. Pasalnya tanaman yang dulu sering dijumpai di hutan, memiliki harga yang menjanjikan dibandingkan tanaman lainnya.

Meski harganya cukup tinggi saat sudah dipanen, tetapi harga bibit porang tersebut sangat murah. Sehingga banyak orang dengan mudah dan tanpa modal bisa menanam porang.

“Satu polybag porang saya menjualnya Rp1.000  sampai Rp2.000. Yang Rp1.000 itu yang tingginya sejengkal, sekitar 10 sampai 15 cm. Kurang lebih segitu,” kata Joko Triyono, yang saat ini fokus di bidang kehutanan dan pertanian, saat ditemui Wiradesa.co, di My Cafe Jalan Sepur No 4, Jogoyudan Wates, Kulonprogo, Jumat 5 Maret 2021.

Saat ini Joko sudah menjual sekitar 5000 lebih bibit porang di Kulonprogo. Untuk bibit yang dijualnya dia mengambil dari kelompok tani di Purworejo.

“Tempat pembibitan ada di Purworejo. Jadi saya tidak sendiri usahanya. Sudah lama kerja sama dengan kelompok tani. Jadi kalau ada orang butuh apa, misalnya jati tinggal tanya. Sama seperti porang,” katanya.

Lebih lanjut, laki-laki lulusan fakultas kehutanan itu menuturkan, untuk mendapatkan hasil panen porang yang bagus, penanaman porang dilakukan dengan cara tumpang sari, karena tumbuhan tersebut toleran.

“Untuk penanaman biasanya, di antara tanaman porang dikasih tanaman keras. Untuk jarak antarporangnya sekitar setengah meter. Ditanam di antara pohon keras itu karena porang toleran. Toleran artinya tanaman yang tidak langsung terbuka terhadap matahari. Jadi di situ, intensitasnya sekitar 50%,” imbuhnya

Selain itu, bagus tidaknya porang tergantung pada letak geografis. “Mungkin porang di Sleman dan Kulonprogo beda. Karena apa? Karena tempat tumbuhnya berbeda. Di sana (Sleman) mungkin terlalu banyak air, sedangkan di sini kapurnya tinggi,” katanya.

Baca Juga:  Jenis Tanaman Hias Keladi yang Banyak Dicari

Joko juga mengatakan, saat ini di Kulonprogo sudah ada kelompok petani porang. Salah satunya ada di Kokap. (Syarifuddin)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *