Joglo Tani Monumen Kebangkitan Tani Indonesia

  • Bagikan
Bangunan Joglo Tani di Mandungan, Rabu (7/12/2022). (Foto: Wiradesa)

SLEMAN – Selama ini petani di Indonesia hidup dalam tekanan. Tekanan itu tidak hanya terkait dengan ekonomi saja, tetapi juga alam, sosial, budaya, global, dan kebijakan. Dibangunnya Joglo Tani untuk melawan berbagai tekanan tersebut. Joglo Tani sebagai monumen kebangkitan tani di Indonesia.

Meski untuk menjadi petani itu banyak tekanan, tetapi anak-anak muda harus yakin bahwa profesi petani itu menjanjikan. Profesi petani berprospek cerah. Dengan sekolah lapangan di Joglo Tani, maka para pemuda akan mendapatkan ilmu, guru, dan pelajaran tentang pertanian terpadu di lapangan.

Joglo Tani merupakan tempat yang memberikan edukasi dalam hal pertanian pada masyarakat. Tempat ini memiliki satu model pertanian terpadu, karena di satu lahan sekitar 2.000 meter persegi tersedia untuk belajar pertanian, perkebunan, perikanan, dan perternakan.

“Pertanian terpadu merupakan siklus pertanian yang memadukan beberapa aspek-aspek pertanian, perikanan, perternakan dan budidaya dalam satu kawasan dengan meniru siklus hidup dari alam,” ujar TO Suprapto, pendiri Joglo Tani, kepada Wiradesa.co, Rabu 7 Desember 2022.

TO Suprapto terus berupaya agar para petani mampu mewujudkan kemandirian pangan. Mandiri tanpa bergantung kepada pihak lain, termasuk kepada pemerintah. “Jika warga bijak bertani, mengasah kreativitas bertani, maka ketahanan pangan untuk keluarga bisa terjaga. Menanam apa yang kita makan dan memakan apa yang kita tanam,” tegas TO Suprapto.

Joglo Tani sebagai menumen kebangkitan tani Indonesia, menyiapkan para petani, khususnya petani muda untuk mendapatkan penghasilan dari usaha pertanian terpadu. Penghasilan itu tidak hanya harian, tetapi juga mingguan, bulanan, dan tahunan. Misalnya pendapatan harian, dari telur itik, mingguan dari telur asin, bulanan dari sayuran, ikan, dan tahunan dari kambing dan sapi.

Baca Juga:  Bancaan, Tradisi Berbagi Ala Desa

Untuk ternak kambing, manajemen Joglo Tani menerapkan system bagi hasil. Mengadopsi system ekonomi Syariah. Bagi hasilnya, 2,5 persen untuk amal, sisanya 10 persen untuk Joglo Tani, 30 persen untuk penitip kambing, 30 persen untuk pembuat kendang, dan 30 persen untuk pencari rumput.

Ada ratusan mahasiswa yang kerja magang dan dididik soal pertanian terpadu di Joglo Tani. Saat ini ada 16 mahasiswa dari Makassar Sulawesi Selatan yang kerja lapangan di Joglo Tani. Mereka turun langsung ke lapangan, untuk menyiapkan lahan, penanaman, pemeliharaan, memanen, dan pemasaran.

Para mahasiswa juga membantu kreativitas dengan memanfaatkan teknologi untuk tanaman semangka smart farming, yang sampai saat ini terus dikembangkan. Teknologi ini diharapkan bisa memudahkan petani dalam mengelola tanaman komoditinya. Karena, proses perawatan dibantu dengan aplikasi berbasis android yang serba diotomatisasi.

Joglo Tani yang berlokasi di Jalan Godean, Km 9 Mandungan, Margoluwih, Sayegan, Sleman, akan terus memotivasi petani untuk terus berupaya mewujudkan kemandirian pangan. Jangan ragu-ragu menjadi petani. (Nur Sidiq)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *