Budidaya Jenitri di Pandansari, Dulu Satu Biji Pernah Ada yang Laku Rp 80 Ribu

  • Bagikan
Madmukti, salah satu petani Jenitri di Desa Pandansari (Foto: Wiradesa)

KEBUMEN – Pohon jenitri (biji rudraksha) di Kebumen, mudah tumbuh di kawasan pegunungan. Di kebun atau pekarangan rumah.

Sentra budidaya jenitri Kebumen terdapat di Desa Pandansari, Kecamatan Sruweng. Di Pandansari, hampir setiap kepala keluarga punya lahan yang ditanami jenitri.

“Dulu kebun jenitri menjadi penghasilan yang sangat menguntungkan bagi warga desa sebab harga jenitri dulu per biji ada yang bisa mencapai Rp 80 ribu,” ucap Madmukti (75), salah satu petani Jenitri di RT 6 RW 2, Dukuh Krenceng, Desa Pandansari kepada wiradesa.co, Kamis, 6 Mei 2021.

Kondisi tersebut berlangsung pada 2014. Alhasil, hal itu mendorong masyarakat Pandansari serentak menanam jenitri. Menurut Madmukti, saat itu apabila habis panen dipastikan bakal mendapat keuntungan besar. Panen jenitri sama seperti padi. Setahun 2 kali panen. Bedanya, waktu panen tak bisa ditentukan secara pasti.

Cara menanam jenitri mudah dilakukan. “Langkah awal lubangilah lahan menggunakan cangkul. Bentuk lubang segiempat. Aturlah jarak antara tanaman satu dengan yang lain kira-kira 7 meter. Hal ini penting dilakukan agar pertumbuhan tanaman bisa lebih tinggi,” urai Madmukti saat bercerita lahan jenitri miliknya. Sistem penyiraman memanfaatkan air di sungai Pandansari yang tidak pernah habis airnya. Warga memanfaatkan air sungai tersebut untuk menyirami jenitri.

Untuk harga bibit jenitri biasanya Rp 2 ribu per bibit. Pasokan bibit kebanyakan dari Wonosobo. Jenitri termasuk tanaman yang mudah tumbuh besar. Dalam waktu dua tahun sudah bisa keluar jenitri.

Cara memanen jenitri tinggal memetik buahnya saja. Apabila buah sudah berwarna biru maka sudah bisa dipanen. Berikutnya, hasil panen tinggal direbus selama 4-5 jam. Habis itu dikupas kulit yang berwarna biru diperoleh bagian biji. Terakhir, jenitri dijemur kembali agar kualitasnya menjadi lebih baik.

Baca Juga:  Tanam Sayuran Lebih Menguntungkan

Petani jenitri menjual hasil panen ke pengepul. Namun ada juga petani yang langsung menjual kepada buyer yang datang dari luar negeri seperti China, Korea, India, Nepal dan Bangladesh. Pembeli dari luar negeri ada yang datang langsung ke Pandansari sebelum pandemi. Akan tetapi, setelah pandemi harga jual jenitri turut merosot. Dari dulunya ada yang mencapai harga Rp 80 ribu per biji sekarang hanya Rp 2.500 per biji. Adanya pandemi memberikan pengaruh luar biasa. Tapi, para petani jenitri di Pandansari masih semangat mengolah kebun mereka. (Nur Anggraeni)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *