Budidaya Ikan Dalam Ember Jadi Hiburan Ibu-ibu Kadipaten Kidul

  • Bagikan
Budidaya ikan lele dalam ember (Foto: Ono/Mandiripangan.com)

YOGYAKARTA – Budidaya ikan dalam ember (Budik Damber) menjadi hiburan bagi ibu-ibu Kadipaten Kidul, Kadipaten, Kraton, Yogyakarta, di masa pandemi Covid-19. Jika sebelumnya mereka dicemaskan dengan informasi tentang merebaknya virus korona, sekarang ibu-ibu asyik ngobrol tentang lele.

“Dulu saat awal pandemi di Whatsapp grup ibu-ibu itu pembicaraannya hanya seputar Covid-19. Pesan yang disampaikan menakutkan dan membuat ibu-ibu merasa was-was, khawatir. Sekarang obrolan dan guyonannya tentang lele,” ujar Ir Susilowati Priadi, Ketua Kelompok Tani Naga Asri dan juga Ketua KTNA Kota Yogyakarta, Selasa (6/10/2020).

KT Naga Asri yang berdiri 30 Maret 2020 beranggotakan 30 orang dari Kampung Kadipaten Kidul. Kelompok ini memperoleh bantuan 105 unit ember dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Setiap satu unit ember itu sudah lengkap dengan 50 bibit lele, pakan, dan tanaman kangkung yang nilainya sekitar Rp250.000.

Setelah mendapatkan dua sampai tiga ember lengkap dengan bibit lele, pakan, dan bibit kangkung, para ibu-ibu Kampung Kadipaten Kidul bersemangat memelihara ikan lele dalam ember. Mereka sibuk dengan budidaya dan bisa melupakan pikiran khawatir akan pandemi Covid-19.

“Obrolan di WA group sekarang bukan lagi di kampung ini ada yang mati karena Covid, tetapi leleku mati tiga. Innalillahi rajiun. Semoga husnul khotimah. Tapi lele suaminya tidak mati to bu,” ungkap Susilowati dengan tertawa.

Selang tiga bulan, warga Kadipaten Kidul panen lele. Saat panen raya, KT Naga Asri mengundang Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Purwadi, Dekan Fakultas Pertanian UGM, dan para pejabat terkait. Panen raya lele digelar di Jalan Nogosari Lor dan berlangsung meriah, penuh suka cita.

Ember tempat budidaya ikan lele dan kangkung (Foto: Ono/Mandiripangan.com)

Setiap ember menghasilkan 5 sampai 6 kilogram lele. Sehingga dengan 105 ember bantuan UGM memanen sekitar 6 kuintal ikan lele. Jika harga lele Rp20.000 per kilogram, maka nilainya sudah Rp12 juta. “Memelihara lele itu selain menjadi hiburan di masa Covid juga bisa menghasilkan pendapatan keluarga,” kata Bu Suroto, warga Jl. Nososari Lor.

Baca Juga:  Lima Hal yang Perlu Diperhatikan bagi Peternak Lele

Selain budidaya ikan lele dalam ember, warga Kadipaten Kidul, khususnya yang tinggal di sepanjang Jalan Nogosari Lor juga mengembangkan pertanian perkotaan. Berbagai tanaman sayuran, buah, bunga, dan obat ada di depan rumah. Para ibu-ibu yang tergabung dalam KT Naga Asri sudah bertekad menjadikan Kampung Kadipaten Kidul sebagai tujuan Agrowisata Kuliner. (Ono)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *