Budidamber: Konsep dan Teknik Pemanfaatan Lahan Sempit untuk Ketahanan Pangan

  • Bagikan
Budidamber di halaman rumah Esperanza, tampak samping. (Foto: Septia)

YOGYAKARTA – Sebelum matahari terbenam, terlihat anggota kelompok tani dengan dibantu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sedang sibuk dengan tanaman yang ada di kebun Gerakan Pekarangan Pangan (GPP) Kelurahan Bausasran. Meskipun begitu, beberapa dari mereka masih menyempatkan diri membantu mencarikan Esperanza, Ketua Kelompok Tani Kelurahan Bausasran.

Bapak dari dua anak, yang juga sebagai penyuluh swadaya perikanan bagian pengolah dan pemasaran perikanan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menemui Wiradesa untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan budidaya ikan lele dalam ember (budidamber).

Di tengah kesibukannya yang sedang mempersiapkan agenda kelompok tani dengan mahasiswa KKN untuk esok harinya, ia menyambut kedatangan Wiradesa dengan penuh kehangatan lewat tutur katanya.

Muhammad Esperanza, sudah berkecimpung dalam perdagangan ikan dan makanan olahannya sedari 2010. Menurut data statistik dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ia ketahui, DIY merupakan wilayah yang masih minim dalam hal konsumsi ikan, terutama ikan laut. “Dari situ lah sebenarnya ini peluang besar untuk mengembangkan DIY agar lebih gemar mengonsumsi ikan,” tutur pria berusia 43 tahun ini, Sabtu, 27 Februari 2021.

Berawal dari kejenuhan selama awal-awal pandemi yang mengharuskan setiap orang untuk berada di rumah, pria kelahiran Pekalangon yang kerab disapa Esperanza ini, mulai menginisiasi budidamber. Idenya itu berangkat dari kegelisahannya untuk bisa mempertahankan pergerakan eknomi, terutama sebagai upaya untuk ketahanan pangan.

Dengan berbekal melihat tutorial yang ada di YouTube dan grup-grup WhatsApp teman-teman swadaya perikanan, akhirnya ia pun tergerak untuk membuatnya sendiri. Sedangkan terkait pembudidayaan ikan lele dalam kolam fiber maupun bak bekas kamar mandi, sudah ia geluti sedari 2012.

Pada mulanya, ia mencoba dengan ikan lele dan gabus. Namun, ikan lele lebih dominan. Beberapa kali, Esperanza juga sempat dikunjungi oleh media untuk diwawancarai tentang budidamber yang ia kembangkan semenjak awal pandemi itu. Walhasil, banyak pihak yang mulai mengetahuinya. Dari situlah, suami dari penyuluh swadaya pertanian kota Yogyakarta ini mensosialiasikan bididamber secara lebih luas lagi. Mulai dari program kelurahan, kecamatan, hingga universitas.

Baginya, banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari budidambernya itu. Mulai dari bisa memanfaatkan lahan sempit, untuk ketahanan pangan keluarga, serta bisa pula untuk diperjualbelikan. Mulai dari menjual perabotan budidambernya, benih ikan, ikan lele, hingga hasil olahan ikan lele, maupun sayuran aquaponik-nya.

Sedangkan di kelurahan Bausasran sendiri, sedari 2014, tiap masing-masing RT sudah ada kolam ikan lele. Dan itu menjadi program kota Yogyakarta, baik ada yang di tiap RT, RW, atau kelompok tani. Katanya, ada pula individu yang membudidayakan lele di rumahnya. Namun, saat itu, mayoritas masih menggunakan kolam atau di dalam drum yang kerap disebut ternak lele cendol.

Baca Juga:  Kampung Markisa Membangun Empat Unit Program Kerja Untuk Ketahanan Pangan

Adanya konsep budidamber, ialah bertujuan untuk pemanfaatan lahan sempit. Dengan begitu, masing-masing rumah dengan ukuran beraneka ragam, bisa turut memelihara ikan lele, minimal untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

“Dengan tujuan bahwasannya kita, di masa pandemi seperti ini bisa untuk ketahanan pangan keluarga. Kita juga harus paham bahwa kandungan ikan itu sangat baik untuk pertumbuhan anak-anak, terutama Omega-3 yang bagus untuk kecerdasan anak,” jelas warga Umbulharjo tersebut.

Esperanza, dengan budidamber dan tanaman aquaponik-nya. (Foto: Winarti, istri Esperanza)

Yang Dibutuhkan dalam Budidamber

Mengenai alat-alat yang dibutuhkan untuk budidamber, Esperanza menjelaskan, yaitu ada ember dengan berbagai ukuran, kran, gelas air mineral, arang, benih sayuran seperti kangkung, sawi, selada, atau seledri, benih ikan, dan pakan ikan.

Sedangkan untuk perawatannya, yang terpenting ialah treatment air dan pemberian pakan yang tepat dan sesuai. “Ganti air biasanya kalau memang ikan sudah ukuran remaja ke atas, sudah tinggal panen, itu biasanya bisa sampai seminggu dua kali. Sedangkan kalau masih remaja-remaja, cukup seminggu sekali. Untuk pakannya, dua kali dalam sehari, itungannya 12 jam sekali, atau bisa juga pagi dan sore,” ujarnya.

Esperanza dengan putrinya dan budidambernya. (Foto: Winarti, istri Esperanza)

Taksiran Biaya yang Diperlukan

Sembari menunjukkan ukuran-ukuran ember yang ada di kebun GPP Bausasran, Esperanza mengatakan kalau jumlah budidamber yang ada di kebun tersebut ada 5 ember dengan rata-rata berukuran 80 liter berisi 35-40 benih ikan lele.

Sedangkan, jumlah budidamber yang ada di rumahnya, kurang lebih ada 10 ember, dengan ukuran rata-rata 70 liter yang berisi 35-40 benih. Terbukti, saat ditemui di kediamannya yang diapit dua rumah di sebelah kanan dan kirinya pada Senin, 1 Maret 2021, berjajar ember-ember yang dipangku kursi-kursi plastik di halaman rumahnya, yang di dalamnya berisi ikan lele yang saat itu belum siap panen.

Untuk bisa panen, ia membutuhkan waktu sampai 3 bulan. Dengan rincian fase pertumbuhan dari benih ke remaja sekitar 1,5 bulan, sama halnya dari remaja hingga dewasa siap panen, yaitu 1,5 bulan.

Sembari duduk di teras rumahnya, ia menjelaskan biaya yang dibutuhkan selama melakukan budidamber. Pria yang tinggal di Gg. Sawit Sari, Semaki Gede, Umbulharjo, Yogyakarta ini pun mencoba mengingat-ingat kembali, kemudian menaksir jumlah rupiah yang telah dikeluarkannya dengan bekal kalkulator yang ada di tangan. Dengan nada lembut, ia menyebut biaya pakan selama panen, kurang lebih 3 bulan, menghabiskan 3 kg dengan harga Rp. 12.000/kg. Berikut penjabaran jenis pakan lele yang ia paparkan.

  • Pakan lele atau pelet untuk ukuran benih 1-1,5 bulan: HI-PRO-VIT 781-1 = Rp12.000/kg (Rp320.000/ kemasan 30 kg)
  • Pakan lele atau pelet untuk ukuran menginjak remaja dan dewasa sampai panen: HI-PRO-VIT 781-2 = Rp12.000/kg (Rp320.000/kemasan 20 kg)
Baca Juga:  Petani Muda Sumenep Panen Cabai Per Tiga Hari Sekali

Usai dirinci dengan seksama, modal yang dikeluarkan Esperanza untuk budidamber, kurang lebihnya ialah:

a. Pakan (pelet) : Rp12.000/bulan x 3 = Rp36.000

b. Benih lele : Rp1000/ekor x 40 ekor = Rp40.000

c. Air listrik : Rp1.000 x 4 kali dalam sebulan x 3 bulan = Rp12.000

d. Ember : Rp100.000 (membuat sendiri; mulai dari memasang kran dan membuat bolongan di bagian tutup, kualitas premium)

Rp175.000 (tinggal dipakai dan sudah kualitas premium)

e. Kursi plastik : Rp65.000

f. Benih sayuran + arang: Rp2.000 x 10 gelas = Rp20.000

Total modal awalnya yaitu Rp273.000 (menggunakan ember harga Rp100.0000), sebagaimana yang digambarkan oleh inisiator budidamber di kelurahan Bausasran tersebut.

Namun, ketika alat-alat sudah tersedia dan tinggal melanjutkan, maka yang dibutuhkan ialah pakan lele, benih lele, dan treatment air secara rutin. Jika ditaksir, biaya yang dibutuhkan untuk satu ember ialah Rp88.000, sudah termasuk listrik untuk air, dan di luar benih tanaman aquaponik dan arang.

Selama ini, setiap 3 bulan sekali, hasil panen ikan lele Esperanza bisa mencapai 5-6 kg/ember ukuran 70-80 liter. Andaikan dihitung 6 kg/ember di setiap panen, dengan harga jual ikan lele/kg mencapai Rp23.000, maka Rp23.000 x 6 kg = Rp138.000, jika tidak ada kematian.

Jumlah benih lele juga harus menyesuaikan ukuran ember. Yaitu ukuran 25 liter untuk isi 20 benih, 70- 80 liter untuk isi 35-40 benih, 100 liter untuk isi 60 benih, dan seterusnya.

“Ya tetap untung. Mungkin untungnya agak mepet, ya. Yang namanya jualan makanan, kadang ada berkahnya juga. Buktinya, uangnya bisa diputer lagi buat modal,” lanjutnya.

Selain dijual dalam bentuk ikan lele, Esperanza dengan istrinya juga kerap mengolahnya menjadi makanan beku. Yaitu lele bumbu frozen, yang dihargai Rp35.000/kg. “Kalau frozen itu udah bersih, dibumbui, dan dibekukan, kemudian dikemas menggunakan plastik. Masa expired-nya juga jadi lebih panjang,” tutur suami Winarti tersebut.

Budidamber, dengan ember berbeda ukuran (Foto: Septia)

Budidamber: Menguntungkan atau Malah Sebaliknya?

Selain menguntungkan, budidamber juga memiliki sisi kelemahan. Yaitu berada di dalam ember, sehingga tempatnya pun terbatas. Maka, mengganti air secara rutin menjadi keharusan dalam proses perawatan. Selain menggunakan jangka waktu, juga bisa dilihat dari respons makan ikan yang berkurang karena bau amoniak dari air yang sudah terlalu tinggi. Sebab, jika tidak teliti, hal tersebut bisa memicu kematian ikan.

Pun pembudidaya juga perlu paham dengan karakter ikan lele yang bisa menjadi kanibal ketika pemberian pakannya kurang. Sama halnya, ketika kebanyakan pakan juga bisa memicu kematian ikan tersebut.

Baca Juga:  Budidaya Terong KTD Sumber Asri

Namun, jika perawatannya baik dan tidak ada penyakit, angka kematian ikan lele terbilang sedikit. “Paling 3-5 ekor. Kecuali kapan hari waktu ada penyakit, banyak yang mati. Tidak hanya di sini, pembudidaya lainnya juga turut mengalami hal serupa,” terangnya sambil mempersilakan minuman dan makanan yang tersaji di atas meja tempat ia duduk.

Pria kelahiran 1979 ini mengungkapkan, akan lebih menguntungkan lagi jika untuk konsumsi sendiri, sebagai ketahanan pangan keluarga. Senada dengan Esperanza, Endang Wahyu Hidayati, Koordinator KTD Bon Jowi 4 Dasa, Bausasran juga mengatakan bahwa budidamber itu sangat menguntungkan.

“Kalau untung ya untung. Hasilnya, kadang untuk makan sendiri, kadang buat menjamu tamu atau dikasihkan tetangga yang mau. Lebih seringnya diolah untuk produk KTD. Ada krupuk sama tekwan ikan lele,” ujar warga RT 40 Bausasran, Danurajen, Kota Yogyakarta, pada Selasa, 2 Maret 2021.

Serupa pula dengan jawaban Andriasari, warga Baciro, yang memiliki 2 ember budidamber ukuran 80 liter yang berisi 30 bibit ikan di setiap embernya. Kata perempuan ini, lebih banyak keuntungan dibanding kerugiannya.

“Ya iya, banyak untungnya. Kan meliharanya gampang. Cuma dikasih makan, dikuras, air kurasannya bisa buat nyiram tanaman. Itu aja sih. Malah, pengennya nambah, biar agak banyak. Soalnya kan kalau cuma 2 ember, lama tuh nunggu panennya. Kalau ada 4 kan, lebih enak dan cepet,” terangnya saat ditemui pada Selasa, 2 Maret 2021.

Modal perawatan budidamber yang dibutuhkan perempuan berusia 40 tahun ini ialah bibit ikan dan pakannya. Sebab ia membelinya dalam bentuk paket. Yaitu satu paket sudah lengkap dengan ember siap pakai, benih lele, tanaman siap pasang, dan pakannya, senilai Rp250.0000-Rp275.000. Ketika usai panen, ia tinggal melanjutkan dengan membeli benih ikan dan pakannya, beserta tumbuhan aquaponik.

Perempuan yang biasa dipanggil Mama Diego ini, melakukan budidamber untuk konsumsi sendiri. Terkadang, ia juga membagikan ke teman atau tetangganya yang menginginkan. “Kita senengnya diolah sendiri. Kan lele itu bisa diolah variatif tuh, bisa digoreng, dimangut, dan macem-macem. Enak, sih,” pungkas perempuan berkaca mata yang memiliki kos-kosan di tempat tinggalnya itu.

Kemudian, ia pun melanjutkan aktivitasnya bersama kedua anaknya yang masih usia anak-anak. Saat keluar dari gerbang rumahnya, terlihat kucing persia yang sedang bermalas-malasan sambil mendekap tubuh berbulunya. Dari gerbang, tampak pula ember yang berisikan lele yang dibudidayakan ibu dari dua anak tersebut, yang sudah 3 kali panen. (Septia Annur Rizkia)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *