Memanfaatkan Saluran Irigasi untuk Budidaya Ikan Nila

  • Bagikan
Wuryanto memberi makan ikan nila di kolam yang memanfaatkan saluran irigasi (Foto: Wiradesa)

KEBUMEN – Hidup di pedesaan memberi peluang besar bagi masyarakat untuk mengelola lahan pertanian yang ada untuk beternak maupun bercocok tanam. Jika pada umumnya lahan persawahan digunakan untuk bertanam padi, dengan kemauan dan sedikit usaha, lahan persawahan yang ada bisa menghasilkan bahan pangan yang lain dalam rangka diversifikasi hasil pangan.

Kegiatan ini bisa dilaksanakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, bisa juga dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Wuryanto (57), perangkat desa Kambangsari, Alian, Kebumen, mencoba untuk mempraktikkan ide diversifikasi hasil pangan tersebut. Dia mengubah sebagian tanah sawah bengkoknya untuk membuat kolam ikan dengan menggunakan terpal.

“Ide awalnya karena ingin mencoba beragam hasil. Dulu kan selain padi saya sering bertanam jagung. Tapi melihat air irigasi yang bagus saya terpikir untuk ganti beternak ikan nila,” ujarnya.

Desa Kambangsari memang salah satu desa yang dilalui saluran irigasi dari Waduk Wadaslintang. Adanya saluran irigasi ini memungkinkan lahan pertanian di Desa Kambangsari selalu teraliri air dengan baik.

Manfaat budidaya ikan nila salah satunya untuk meningkatkan perekonomian keluarga (Foto: Wiradesa)

Dengan posisi saluran irigasi yang lebih tinggi dari areal persawahan, warga hanya perlu membuat saluran air menggunakan pipa paralon untuk mengalirkan air ke kolam ikan. Di Desa Kambangsari sendiri ada tiga orang yang memanfaatkan saluran irigasi untuk beternak ikan yaitu Wuryanto, Sugeng, dan Bibit. Bertiga, mereka kompak bersama-sama membuat saluran air irigasi menuju kolam ikan dengan pipa paralon sepanjang kurang lebih 1 km. Selanjutnya, jika terjadi kemacetan atau hambatan dalam aliran air menuju kolam, mereka bertiga akan iuran sebesar Rp 20.000/orang untuk mengupah orang memperbaiki.

“Kalau secara ekonomi belum menghasilkan. Ini saya baru memulai, baru dua bulan. Kolamnya kan sekitar 2 x 9 m, dulu saya isi dengan 1000 ekor bibit ikan. Alhamdulillah perkembangannya bagus, yang mati di bawah 10%,” ungkap Wuryanto.

Baca Juga:  Ada Sinta dan Mantili di Kandang KTT Bintang Farm Tambakagung

Lebih lanjut Wuryanto menjelaskan, bibit ikan yang dibeli saat itu masih berukuran 7 – 10 cm harga Rp 1000 per ekor. Setelah dipelihara sekitar dua bulan, saat ini ikan nila yang ada sudah sebesar setengah telapak tangan dewasa. “Besarnya beragam. Ada yang cepat besar, ada juga yang agak lambat. Tapi secara umum nanti setelah umur tiga bulan sudah layak jual semua,” jelas Wuryanto.

Ide diversifikasi hasil pangan di tiap daerah tentunya berbeda-beda menyesuaikan kondisi alam yang ada. Namun, untuk daerah dengan aliran irigasi yang baik, beternak ikan nila bisa menjadi salah satu pilihan yang bijak. (Endah Tri Rachmani)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *