Kampung Markisa Membangun Empat Unit Program Kerja Untuk Ketahanan Pangan

  • Bagikan
Pintu Masuk Kampung Markisa (Foto: Syarifuddin/Wiradesa.co)

YOGYAKARTA – Kampung Markisa merupakan kelompok yang terdiri dari beberapa unit kerja. Di antaranya, Pertanian Kota, UMKM, Budidaya Ikan Lele, dan Gantangan Burung.

“Istilahnya, ya, ini sebuah lembaga bernama Kampung Markisa. Terus di situ, ada beberapa program atau unit kerja. Kita menginisiasi ada empat unit kerja, yaitu pertanian kota, budidaya ikan lele, UKM, kemudian gantangan burung berkicau,” kata Ketua Kelompok Kampung Markisa, Rihadiyanto, saat ditemui Wiradesa.co di Kampung Blunyahrejo, Kalurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis 18 Februari 2021.

Adapun empat unit kerja yang berdiri di atas lahan kurang lebih 4.000 meter persegi itu, dikelola oleh warga setempat Kampung Blunyahrejo, Kalurahan Karangwaru. Semua kegiatan di kampung itu berjalan dengan lancar hingga saat ini.

“Untuk lahan ini, statusnya kita pinjam pakai. Pemilik person. Ada tiga person. Semuanya kita pakai dengan beberapa status perjanjian,” kata Yanto.

Menurut Toto Purnomo (Koordinator Pertanian Kampung Markisa), tanaman utama yang ditanam adalah buah markisa, yang lainnya sawi, kangkung, terong, tomat, cabai, ketela, dan talas.

“Yang kita tanam itu, utamanya markisa, selain itu ada terong, sawi, cabai, kangkung, jagung, talas dan ketela. Awal membuka lahan ini, tanaman yang kita tanam suadaya masyarakat,” ujar Purnomo.

Toto Purnomo, Koordinator Pertanian Kampung Markisa (Foto: Syarifuddin/Wiradesa.co)

Buah yang siap dipanen, seperti markisa diolah untuk dijadikan sirup. Kemudian dijual ke sekolah-sekolah dan pengunjung yang datang ke Kampung Markisa. Sedangkan tanaman lainya dan budidaya ikan lele, dijual kepada warga setempat.

“Untuk markisa, kita menjualnya dalam bentuk sirup. Biasanya kita jual di sekolah-sekolah dan pengunjung yang datang ke sini. Sedangkan sayuran dan ikannya, biasanya kita jual ke warga setempat,” katanya.

Berkat berdirinya kelompok tersebut, kampung itu, bisa bertahan di masa pandemi dan perekonomiannya tetap berjalan. (Syarifuddin)

Baca Juga:  Penggerak Desa Belajar Jurnalisme Pangan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *