Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓
Pakar  

Ekosistem Budidaya Lele

Sentra budidaya lele di Padukuhan Duwet 2, Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo. (Foto: Wiradesa)

Oleh: Sihono HT (Founder Wiradesa Group)


Minggu lalu, saya berkunjung ke Sentra Budidaya Lele Terpadu di Padukuhan Duwet 2, Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Saat itu, kami bertemu dengan pembudidaya lele (petani), penjual pakan pelet (marketing), dan pedagang ikan lele.

Saat berbincang dengan petani, penjual pakan, dan pedagang lele, ternyata ada berbagai persoalan dari mereka yang perlu dicarikan jalan keluar. Karena jika tidak ada solusi, maka akan mengganggu relasi antarinstrumen penting pada ekosistem budidaya lele.

Persoalan yang dihadapi pembudidaya lele, antara lain kenaikan harga pakan yang tidak selaras dengan kenaikan harga jual lele. Masalah lain, pembayaran jual beli lele yang tidak sesuai dengan kesepakatan atau melanggar tempo. Selain itu, juga ada masalah ukuran lele (size).

Pembudidaya lele merasakan harga pakan terus naik, sedangkan harga lele relatif stabil. Jika ada kenaikan harga lele, besarnya tidak sebanding dengan kenaikan harga pakan. Sehingga petani selalu berada pada posisi “kalah” atau di bawah.

“Selama ini, kenaikan harga ikan lele belum selaras dengan kenaikan harga pakan pelet,” ungkap Mokhamad Karir, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Alam Tirto” Padukuhan Duwet 2, Banjarharjo.

Harga pakan lele (pelet), pada bulan Oktober 2026, berkisar antara Rp 394.000 sampai Rp 439.500 per sak (30 kg). Rinciannya harga SpLa-2 Rp 405.500 (STP), Hdpil-2 Rp 409.000 (Haida), 8505-2 Rp 439.500 (Tongwei), dan 102-2 Rp 394.000 (Evergreen). Sedangkan harga jual lele ke pedagang Rp 21.000 per kg dan harga eceran Rp 23.000 per kg.

Persoalan terkait dengan pembayaran, seorang petani mengungkapkan masalah yang dihadapinya, tempo pembayaran pedagang tidak sesuai kesepakatan. Misalnya pembayaran tempo satu minggu, kesepakatan petani dan pedagang, tetapi pelaksanaannya mundur sebulan, bahkan sampai mundur lagi.

Baca Juga:  Rumah Wartawan Mandiri Pangan

Sementara masalah lainnya jika kondisi pasar sepi, sering pengambilan oleh pedagang jadwalnya mundur. Hal ini menyebabkan ikan oversize dan harganya lebih murah. Sehingga keuntungan pembudidaya berkurang. Petani berharap kerjasama dengan pedagang terjalin baik, saling mengutungkan.

Proses panen lele di kolam bulat. (Foto: Wiradesa)

Masalah yang dirasakan penjual pakan, antara lain pembayaran yang tidak tepat waktu. Darsono, Team Marketing Reteefed Barokah, mengemukakan petani terkadang lalai untuk membayar tepat waktu (tempo). Bahkan ada yang tidak bisa menyelesaikan tagihan selama bertahun-tahun.

Sebagai mitra petani, penjual pakan lele, berharap jalinan kerjasama antara penyedia pakan dan mitra petani terjalin dengan baik. Para penjual pakan menyadari, lancarnya pembayaran pakan ini sangat tergantung dari lancarnya pembayaran dari pedagang ke petani. Sehingga ketiga pihak, antara petani, penjual pakan, dan pedagang lele perlu saling memahami agar ekosistem budidaya lele tercipta dengan baik dan saling menguntungkan.


Persoalan yang dialami sejumlah pedagang lele, umumnya terkait dengan size lele, jumlah produksi, dan susahnya menyamakan persepsi antara pedagang dan petani. Pedagang sering dihadapkan, keinginan pasar terkait dengan ukuran lele, tidak bisa dipenuhi oleh petani. Sehingga pedagang, terpaksa mengambil lele yang tidak sesuai yang diinginkan konsumen.

Selain itu, produksi lele oleh para petani, dirasakan pedagang, umumnya tidak bisa konstan, jumlah produksinya tidak stabil. Padahal kebutuhan pasar itu relatif stabil. Jika seorang pedagang memerlukan lele 300 kg sampai 350 kg per hari, maka dia ingin petani mampu memproduksi jumlah lele yang diinginkan. Pedagang berharap ada persepsi yang sama, antara para pedagang dan petani.

Panen lele dilaksanakan setiap hari untuk memenuhi permintaan pedagang. (Foto: Wiradesa)

Budidaya lele di perdesaan, potensi ekonominya cukup besar. Dalam satu hari, Sabtu 12 September 2026, ada 3 pedagang (grosir) lele yang membeli ikan lele di Sentra Budidaya Lele Terpadu Duwet 2, Banjarharjo. Totalnya dalam satu hari tersebut ada 1.507 kilogram ikan lele yang terjual.

Baca Juga:  Lomba Masak Olahan Berbahan Dasar Talas, Ciptakan Pangan Desa yang Unik

Rinciannya, pada pagi hari, pedagang dari Muntilan Magelang membeli 521 kg. Kemudian siang hari, pedagang dari Godean Sleman mengambil 488 kg. Selanjutnya sore hari, pedagang dari Wates Kulonprogo memanen 498 kg. Jadi dalam satu hari, bisa panen 1.507 kg ikan lele.

Berdasarkan penuturan Mokhamad Karir, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Alam Tirto”, yang mengelola 159 kolam terpal bulat di Sentra Budidaya Lele Terpadu Duwet 2, Banjarharjo, harga lele saat ini untuk jual ke pedagang Rp 21.000 per kg. Harga eceran Rp 23.000 per kg.

Dengan harga Rp 21.000 per kg, maka dalam satu hari (Sabtu) ada pemasukan dana sebesar Rp 31.647.000. Mokhamad Karir mengungkapkan rata-rata produksi lele dari Padukuhan Duwet 2 pada September 2026 sebanyak 568 kg per hari. Jadi omzetnya Rp 11.928.000 per hari atau Rp 357.840.000 per bulan.

Karena potensi ekonominya cukup besar, maka masuk akal jika persoalannya juga cukup besar. Agar ekosistem budidaya lele terwujud dengan baik, sepertinya perlu ada pertemuan antara petani, penjual pakan, dan pedagang. Siapa yang mempertemukan mereka, bisa dinas terkait (Dinas Kelautan dan Perikanan) atau media yang peduli dengan ketahanan pangan, khususnya budidaya ikan lele. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *