Budidaya ikan lele dalam kolam terpal bulat, kini diminati para petani di perdesaan. Karena selain mudah dan murah, hasilnya juga lumayan untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga.
Dengan modal Rp 30 juta, pada panen kedua dan selanjutnya sudah mulai untung. Periode panennya sekitar 3 bulan. Untuk panen pertama, masih belum untung karena untuk biaya pembuatan kolam terpal bulat.
Modal awal Rp 30 juta untuk pembuatan kolam terpal bulat 5 unit, per unit Rp 1.500.000, totalnya Rp 7.500.000. Anggaran pembelian bibit lele 15.000 ekor untuk 5 kolam Rp 4.200.000. Selanjutnya untuk beli pakan pelet 10 sak kali 5 Rp 19.625.000.
Ketua Asosiasi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kabupaten Kulonprogo, Mokhamad Kharir, menjelaskan biaya terbesar budidaya ikan lele terbanyak di pembelian pakan, pelet. “Jika petani bisa mengupayakan pakan alternatif, maka biaya itu bisa ditekan dan keuntungannya semakin besar,” ujar Mokhamad Kharir, Selasa 31 Maret 2026.
Harga pelet sekarang (akhir Maret 2026) per sak Rp 392.500. Jika setiap kolam diisi 3.000 ekor bibit lele, maka sampai panen diperlukan minimal 10 sak. Hasil panennya sekitar 3 kuintal atau 300 kilogram. Harga jualnya Rp 20.000 per kg.
Pengeluaran dan Pendapatan
Untuk 5 kolam
Pengeluaran:
-Modal pembuatan 5 kolam (diameter 3 m, tinggi 1,5 m) = Rp 7.500.000.
-Bibit 3.000 ekor (Rp 840.000 x 5) = Rp 4.200.000.
-Pakan pellet (10 sak x 5) Rp 3.925.000 x 5 = 19.625.000.
-Total modal Rp 31.325.000.
Pendapatan:
-Panen I mendapat masukan Rp 30.000.000.
-Rugi Rp 1.325.000.
Untuk siklus kedua, ada penyusutan biasa pembuatan kolam Rp 7.500.000.
-Modal siklus kedua Rp 23.825.000.
-Hasil Panen II Rp 30.000.000.
-Untung Rp 6.175.000.
Jadi siklus kedua atau tiga bulan kedua, usaha budidaya ikan lele sudah mulai untung. Jika untungnya setiap siklus Rp 6.175.000. Maka dalam waktu 6 bulan, biaya pembuatan kolam akan tertutup.
Pembudidaya ikan lele akan mendapat keuntungan lebih besar, jika mampu membuat pakan alternatif. Karena biaya terbesar itu di pembelian pakan pabrikan, pellet, biasanya sampai 62,5 persen dari total biaya operasional budidaya. (Ono)







