Pendiri Studio Tani Kalisuci Gunungkidul, Tri Madi Wiyono, dinominasikan sebagai penerima Svarna Bhumi Award 2026. Penghargaan yang diinisiasi oleh Pupuk Indonesia bersama BenihBaik.com dan Kick Andy Metro TV ini diperuntukkan bagi sosok inspiratif yang berdedikasi menjaga ketahanan pangan Indonesia dari berbagai pelosok negeri.
Selain Tri Madi Wiyono dari Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ada 10 sosok inspiratif lain yang terpilih sebagai nominator Svarna Bhumi Award 2026. Mereka adalah Adi Lathif Mashudi, petani dan pengusaha Blora, Jawa Tengah, Anto, petani umbi yakon, Wonosobo, Jawa Tengah.
Kemudian, Mulyanto, petani labu siam, Semarang, Jawa Tengah, Jamaludin Nur Ridho, pemberdaya Jamal Farming, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, I Kadek Gandhi, agro-sociopreneur, Buleleng, Bali, Romo Robertus Pelita, pastor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Selanjutnya, Muhamad Syukur, guru besar, dosen, peneliti, dan pemulia tanaman, Bogor, Jawa Barat, Joko Pramono, penyuluh pertanian, Jember, Jawa Timur, Yuri Yuam, petani dan wirausaha kopi, Kebumen, Jawa Tengah, dan Turno, petani kopi, Banjarnegara, Jawa Tengah.
Penghargaan Satya Pangan Loka merupakan bentuk apresiasi kepada pahlawan pangan pilihan publik. Seluruh kandidat telah melalui proses seleksi oleh Dewan Juri dan dipilih atas dedikasi serta kontribusi nyata mereka dalam memajukan sektor pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia.
Dewan Juri terdiri dari Rahmad Pribadi (Direktur Utama Pupuk Indonesia), Andy F. Noya (Pendiri Yayasan Benih Baik), Tasya Kamila (Publik Figur), dan Nisya Saadah (Pemenang Svarna Bhumi Award 2025).
Penerima penghargaan ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak dari publik melalui kanal digital Metro TV dan Pupuk Indonesia. Pemilihan publik berakhir 17 Agustus 2026. “Alhamdulillah, terpilih sebagai nominator Svarna Bhumi Award 2026. Ini sudah penghargaan dan pengakuan yang luar biasa,” ujar Tri Madi Wiyono, kepada Wiradesa.co, Rabu 12 Agustus 2026.

Profil Tri Madi Wiyono
Tri Madi Wiyono merupakan petani asal Kampung Tangguh Kali Suci, Gunungkidul, Yogyakarta, berusia 45 tahun. Lulusan SMP ini dikenal sebagai penggagas sistem “Petani Cerdas Air”, sebuah inovasi pertanian hemat air yang memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam.
Sebelum menjadi petani, Tri bekerja sebagai tukang parkir selama tujuh tahun. Pengalamannya melihat pasokan sayuran di Gunungkidul yang didominasi dari luar daerah mendorongnya mengembangkan pertanian di wilayah yang dikenal minim air.
Berbekal belajar langsung dari ahli pertanian dan berbagai percobaan mandiri, ia berhasil menciptakan sistem budidaya menggunakan galon bekas dengan metode kapiler yang mampu menghemat penggunaan air secara signifikan.
Inovasi dan Program
Tri mengembangkan konsep “Petani Cerdas Air” yang memungkinkan budidaya bawang merah, seledri, melon, hingga padi di lahan kering dengan penyiraman hanya setiap 5-7 hari. Ia juga menciptakan sistem tumpang sari “JELAS” (Jahe, Loncang, Seledri), mengembangkan budidaya ikan dan ayam yang terintegrasi, serta mendirikan “Studio Tani Kalisuci” sebagai pusat edukasi pertanian terpadu dan pemberdayaan masyarakat.
Inovasi ini telah diterapkan oleh seluruh warga di satu RW yang terdiri dari 68 kepala keluarga serta membina sedikitnya 15 petani muda. Studio Tani Kalisuci menjadi tempat belajar pertanian bagi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, hingga mancanegara.
Melalui pendampingan Kementerian Sosial, sistem pertanian galon ini juga diterapkan di sejumlah daerah seperti Bandung, Bogor, Bekasi, dan Surabaya. Program ini turut menciptakan lapangan kerja bagi 10 orang serta memberikan tambahan pendapatan bagi banyak keluarga.
Saat ini Tri mengelola 10 greenhouse yang masing-masing berisi sekitar 1.500 galon tanam untuk budidaya bawang merah, seledri, dan melon. Sistem pertanian ini dirancang agar dapat diterapkan dengan biaya murah, mudah diadopsi masyarakat dan menghasilkan keuntungan meski dilakukan di pekarangan rumah. (*)






